Puluhan Fotografer Hadir Di Acara Jogja Shutter Camp#2

Foto bersama peserta Jogja Shutter Camp kedua

Foto bersama peserta Jogja Shutter Camp#2

Lebih dari 50 fotografer datang dari berbagai kota menuju Kecamatan Rongkop, Gunungkidul pada hari minggu (8/3/2015) kemarin. Mereka secara khusus datang dalam acara “Pagi sore charity fotografi” Jogja Shutter Camp kedua.

Acara yang berlangsung dari pagi hingga sore ini mendapatkan perhatian masyarakat sekitar serta banyak orang yang kebetulan melewati jalur utama Baran-Pracimantoro ini, pasalnya base camp dimana para peserta berkumpul dan beraktifitas memotret di desa Saban, Karangwuni yang adalah rumah dari bapak Tukino yang berada persis di pinggir jalan.

Fotografer yang datang pun tidak tanggung-tanggung, selain mereka adalah para fotografer yang sudah tidak asing di belantara fotografi mereka adalah peserta yang datang dari berbagai daerah dari DI Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tercatat mereka datang dari kota Surabaya, Solo, Salatiga, Semarang, Magelang, Bantul, Kulon Progo, Yogyakarta, Gunungkidul bahkan dari Korea. Mereka berbaur menjadi satu tanpa lagi membedakan professional atau tidak, berasal dari mana, komunitas apa, maupun alat apa yang digunakan.

Dimulai dengan jelajah potensi dusun Saban yang adalah penghasil jenang, para peserta di ajak menuju ke dusun Ngampiran menggunakan 4 kendaraan terbuka untuk melihat alam, aktifitas masyarakat dan proses pembuatan tampah juga kerajinan bambu yang saat ini lambat laun tersingkir oleh barang-barang dengan bahan plastik. Di Dusun ini para peserta dikejutkan dengan sambutan tari tampah oleh anak-anak dusun setempat asuhan Ibu Lina yang tak urung membawa suasana menjadi istimewa bagi para peserta. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Mr. Kim yang adalah peserta yang berasal dari Korea, bahkan Mr. Kim ini menyatakan akan datang lagi dalam acara Jogja Shutter Camp selanjutnya.

Setelah kembali ke camp di Saban para peserta dijamu dengan masakan khas Gunungkidul berupa oseng lombok ijo dan dilanjutkan sharing fotografi yang didampingi oleh panitia menjadi empat kelompok untuk lebih mengakrabkan diri serta berbagi ilmu.

Acara kemudian dilanjutkan dengan acara sesi foto tari memedi sawah, topeng ireng, dan tari kreasi oleh penari Lukas Priyo Arintoko, Bekti, dan Lina yang adalah juga  pemilik dari sanggar “Gubug Rembug”. Tak cukup di sini saja, para peserta juga mendapatkan kesempatan memotret karawitan ibu-ibu dari Baran yang ternyata alat gamelannya masih meminjam dari milik perseorangan.

Sesi pemotretan tari Tayub di pantai Wedi Ombo

Sesi pemotretan tari Tayub di pantai Wedi Ombo

Tayub yang ditarikan oleh Fitra, Nela, dan Ayu adalah sesi foto “Blind Shoot” yang dinantikan oleh para peserta. Menariknya lagi sesi foto tayub rupanya tidak hanya berada di base camp kegiatan di Saban melainkan kembali para peserta di ajak merasakan sensasi lengkap bersama kekayaan alam Gunungkidul yakni bersama-sama berarak-arakan dengan truk dan mobil beberapa peserta menuju ke pantai Wedi Ombo.

Nampak hadir dalam acara ini para pejabat pemerintahan setempat, Dinas Pariwisata Propinsi DI Yogyakarta, juga petugas dari polres Rongkop yang mengiringi acara dari pagi hingga selesai.

Sebuah acara yang sarat dengan nilai kepedulian yang ingin di angkat oleh panitia bersama dengan fotografer dan kerjasama banyak pihak. Menjaga dan melestarikan potensi lokal sekaligus memperkenalkan secara luas kepada masyarakat di mana saja.

(foto / artikel : Album JSC & Ajisoko/Christin)