Manisnya Gula Kelapa Segambir Kokap

Petani gula kelapa sedang menderes nira

Petani gula kelapa sedang menderes nira

Memasuki jalan yang tak begitu luas team teraswarta menuju ke sebuah desa di sisi barat waduk sermo, Kulon Progo. Lebih tepatnya kami menuju ke sebuah dusun yang oleh penduduk setempat akrab dikenal dengan nama segambir. Lebih tepatnya berada di RT 01/RW 01, Gunung Kukusan, Hargorejo, Kokap, Kulon Progo.

Meski cukup jauh dari kota, dan jalan yang awalnya beraspal, lalu double cor dan bebatuan yang lumayan memberi keasyikan dan tantangan tersendiri, namun sejuknya alam yang masih penuh dengan pepohonan dan sungai kecil yang berada di samping jalan seolah menjadi hiburan tersendiri saat menuju ke tempat dimana potensi pembuatan gula kelapa ini pernah diangkat oleh sebuah acara fotografi jogja shutter camp.

Di desa ini memang dikenal sebagi penghasil gula kelapa murni atau masih dengan cara serta pengolahan yang masih sangat tradisional. Tercatat lebih dari 90 persen penduduknya menggantungkan diri pada hasil getah bunga kelapa yang biasa disebut sebagai nira atau legen.

Keramahan penduduk menjadi pemandangan sisi lain di jarak kurang lebih 1,5 kilo meter. Sampai saat kami harus memarkir kendaraan dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki kurang lebih 300 meter menuju ke tempat di mana produk gula kelapa ini dihasilkan.

Dari keragaman pepohonan yang rimbun dan menjulang, pohon kelapa memang terlihat mendominasi. Dan di jam pagi (kurang lebih pukul 07:00 wib) sesekali terdengar semacam suara terompet yang menggaung, yang setelah kami tanyakan kepada penduduk adalah hasil dari tiupan “bumbung” atau potongan bambu yang menjadi alat untuk tampungan jatuhnya getah nira yang natinya akan dimasak menjadi gula kepala.

Sampailah kami di rumah salah seorang pembuat gula kelapa Bapak Surahmat, dan disinilah kami memulai sedikit banyak pertanyaan tentang cara dan juga proses pembuatan gula kelapa.

Beliau menjelaskan bahwa nira kelapa ini diambil 2 kali dalam sehari yakni pada pagi dan sore hari, tidak peduli cuaca mau panas atau hujan semacam bulan-bulan ini. Meski memang diakui derasnya hujan tak hanya membuat licinnya pohon saat dipanjat namun juga mempengaruhi hasil gula.

Tungku dan proses memasak gula kelapa

Tungku dan proses memasak gula kelapa

Proses membuat gula kelapa.

Melaru :

Melaru ini adalah proses menyiapkan campuran getah yang akan diambil saat menderes pada wadah (bumbung) yang berisi larutan gamping (enjet) dan getah manggis, ini selain mempengaruhi warna juga mempengaruhi proses “peragian” nira.

Menderes :

Proses ini adalah proses mendapatkan getah bunga kelapa dengan cara memagas sedikit demi sedikit bunga kelapa menggunakan “deres” atau pisau yang sangat tajam sehingga bunga akan bertahan sampai beberapa saat pengambilan. Biasanya dalam satu pohon minimal ada dua bumbung yang bisa diapasang di atas.

Pemasakan :

Setelah hasil nira dikumpulkan menjadi satu lalu dilakukan proses penyaringan dari kotoran dan juga semut atau lebah yang biasanya terdapat saat proses menderes. Nira kemudian dimasukkan ke dalam wajan atau panci sampai kurang lebih 2-3 jam, ini tergantung dari nyala dan kayu yang digunakan untuk pembakaran.

Mbedah dan nyawang :

Setelah dimasak akan ada proses mendidih (mbedah). Mbedah sendiri adalah proses busa yang akan terlihat membelah saat telah mendidih. Demikian proses pemasakan terus dilakukan sampai mengental dan dilakukan proses “nyawang”. Nyawang ini berasal dari kata “sawang atau lihat” maka petani gula kelapa akan “nyawang” apahak cairan yang mengental saat dijatuhkan dari alat adukan akan terbawa terbang dan menjadi seperti jaring laba-laba. Apabila iya maka masakan nira telah siap untuk dicetak atau di titis.

Nitis :

Ini adalah proses terakhir dimana wajan akan diturunkan untuk di cetak pada batok-batok kelapa yang telah disediakan lalu dibiarkan menjadi kental, keras dan di copot dari cetakan. Maka jadilah Gula kelapa yang siap untuk dikonsumsi.

Saat ini tidaklah banyak penerus petani gula kelapa ini, kaum muda lebih banyak memilih untuk bekerja diluar dengan profesi yang lain sama sekali. Hal ini memang menjadi keprihatinan tersendiri meski memang diakui bahwa resiko serta hasil terkadang tidaklah besar. Hanya apabila melihat kebutuhan gula kelapa ini masih menjadi bahan pokok tentunya selain gula pasir.

Sebuah penjelajahan potensi yang menarik dan juga inspiratif tentunya di tempat ini. Keindahan alamnya, kuliner desanya yang boleh kami nikmati dan terutama manisnya gula kelapa yang memang lain sama sekali karena sungguh berasal dari kayanya potensi lokal murahnya alam melalui pohon kelapa. dan bagi Anda pecinta fotografi atau kuliner desa bisa saja datang ketampat ini untuk memotret atau berwisata alam sembari menikmati masakan desa yang khas.

(foto dan artikel : tw)