Di Brisbane Ada Angkringan “Mergo Mudhun”

Acara angkringan di Brisbane yang diikuti oleh warga Indonesia

Acara angkringan di Brisbane yang diikuti oleh warga Indonesia

Kata Angkringan terutama di daerah Istimewa Yogyakarta, sudah tidak asing lagi ditelinga dan biasanya langsung dikaitkan dengan sebuah tempat makan yang khas dengan tenda, lampu redup, dan menu yang “nampaknya” serba sederhana.

Kekhasan menu makanan yang kemudian dicari di sana adalah Sego Kucing yaitu bungkusan nasi yang sedikit bak makanan kucing. Nasi dengan lauk oseng tempe atau teri yang hanya berisi beberapa sendok itu kemudian dibungkus daun pisang dan biasanya di luarnya dilapisi kertas koran. Tidak ketinggalan akan tersaji makanan peneman lainnya seperti sate telur puyuh, tahu bacem, tempe goreng, bakmi, cakar ayam, sate usus, krupuk/rambak dan yang lainnya.

Minuman jahe dan teh (nasgithel=panas legi kenthel) adalah juga khas Angkringan. Gerobak kayu yang bias didorong merupakan tempat untuk menjajakan makanannya.

Baru saja di Brisbane – Australia, rasa kangen akan angkringan sedikit terobati dengan adanya angkringan dadakan. Kami warga Indonesia yang tinggal di sana terutama warga Jogja mengadakan acara yang melulu ingin merasakan “citarasa” angkringan ala Yogyakarta. Tidak dengan gerobak dan beratapkan tenda biru, namun dengan meja dan gazebo yang biasanya kami bawa camping dengan latar belakang becak dengan lukisan batik khas Jogja. Sementara nama Angkringannya adalah “Mergo Mudhun” yang diambil dari nama lokasi diadakannya angkringan itu yakni “Karana Downs”, meskipun untuk mencapai lokasi ini harus naik turun disekitar sungai Brisbane.

Makanan yang tersajipun ada seperti yang disebutkan di atas tadi, hanya saja ada tambahan Es Dawet dan kami tidak memakai cakar ayam , jeroan (ati,usus,paru). Krupuk rambak tetap ada karena warga Jogja yang membawanya setelah liburan. Tak ketinggalan di sana juga ceret (tempat memasak air).

Semua sudah siap sore itu, namun bagian minuman ternyata belum dan masih sibuk dengan campuran teh yang sangat rahasia yang didapat dari seorang ibu di Jogja(ibu teman kami yang tinggal disini). Begitu air dituangkan ke dalam teh yang sudah kami siapkan, bau harum yang terbawa angin tercium oleh beberapa orang diluar yang sedang menunggu dan datanglah kedapur bertanya. “mas, teh apa ini baunya enak sekali?” Datang yang lain dan berkata hal yang kurang lebih sama, “wah jian enak tenan ambune (wah sedap betul baunya) Teh apa namanya mas?”. Pembuatnya hanya senyum-senyum dan menjawab “rahasia mas, mbak saat ini. Nanti juga akan saya beritahu”.

Jahe bakar,Teh sudah siap maka segera dibawa kemeja untuk melengkapi makanan yang sudah tertata rapi. Jual beli sudah siap, membelinya pun tidak dengan uang betulan namun dengan uang yang dipakai untuk mainan(Monopoly). Ada yang 5,10,20,50,100 dan 500…dan uang itu dibagikan kepada semua yang hadir.

Berapa mbak nasi ayam, sate telur puyuhnya? Oh 500 saja, lha kalau wedang tehnya berapa mas? Sama 500 saja jawabnya. Itulah bahan-bahan kelakaran dan lelucon karena semuanya sebetulnya gratis dan uang monopoly sebagai guyonan saja. “Wedang jahenya joss gandos kotos-kotos mas!” seru seorang bule. Oh ya mau tambah lagi? Nggak mas nanti mencoba teh dengan gula batu jawabnya.

Sehabis makan, anak-anak main kartu di ruang dalam di meja dan yang di luar kita terpingkal-pingkal dengan humor ala kadarnya dan senandung Loro Lopo (dimabuk cinta) oleh teman kami yang sangat cocok karakternya. Semua yang hadir (sekitar 15 orang termasuk manager penerbangan maskapai Garuda Indonesia) senang sekali dan kenyang, banyak makanan namun perut sudah tidak mungkin lagi untuk diisi. Kapan diadakan lagi mas?

Sebuah acara menarik untuk pengobat rindu akan kampung halaman yang memiliki kekhasan yang memang tidak didapatkan di tempat kami berada saat ini. Maka ada baiknya apa yang ada di Indonesia dijaga kelestarian citarasa dan bentuk kuliner “angkringan” ini.

(Foto dan artikel : A. Yogiyono)