Tradisi Nguras Enceh Di Makam Para Raja Mataram

warga menunggu air jamasan

warga menunggu air jamasan

Sudah sejak pagi kompleks makam para Raja Mataram di Imogiri, kab. Bantul, Yogyakarta banyak dikunjungi para peziarah. Bukan tanpa maksud, pada hari Jum’at (07/11/2014) atau dalam penanggalan Jawa Kuno tepat hari Jum’at Kliwon, makam Imogiri mempunyai hajat  menguras enceh atau gentong besar berjumlah empat yang terletak di depan makam.

Keempat gentong ini bernama Kyai Danumaya dan Kyai Danumurti di wilayah Kasultanan Yogyakarta, sedangkan Kyai Mendung dan Nyai Siyem berada di wilayah Kasunanan Surakarta. Keempat gentong yang dahulu untuk berwudhu sebelum memasuki area makam ini akan dibersihkan dengan mengganti air di dalamnya serta mencuci seluruh badan gentong.

 Tradisi yang sudah ada sejak Kerajaan Mataram, sebelum wilayah tersebut terpecah menjadi Kasultanan dan Kasunanan dengan ditandai perjanjian Giyanti (1755) sampai sekarang masih dijalankan dan yang menjadi daya tarik adalah kesakralan air jamasan. Air jamasan dalam mitologi Jawa merupakan air yang membawa berkah karena telah menjamas benda seperti pusaka dari Raja yang merupakan barang yang sangat special, oleh karena itu air jamasan sampai sekarang masih dianggap sakral oleh masyrakat Jawa.

abdi dhalem tengah mengambilkan air dari enceh dalam prosesi nguras enceh

abdi dhalem tengah mengambilkan air dari enceh dalam prosesi nguras enceh

Upacara Nguras Enceh dimulai dengan membersihkan badan gentong dan mulai menambahkan air ke gentong hingga penuh. Air ini nantinya akn diambil oleh setiap abdi dhalem baik dari Kasultanan dan Kasunanan akan dibagikan kepada peziarah yang telah menunggu sejak dari pagi. Bahkan tidak hanya air, para peziarah makam ini mengambiul bunga hasil dari kurasan air gentong tersebut. Sebagian warga meyakini air kurasan enceh ini mempunyai kesakralan tersendiri, baik untuk pengobatan maupun pertolongan hidup.

Pengageng Kama Imogiri, KRT Hastono, menjelaskan bahwa tradisi yang telah ada sejak Sultan Agung atau Pangeran Mangkubhumi, enceh-enceh tersebut sudah rutin diganti airnya setiap Jum’at Kliwon di bual Suro. Hal inilah yang menjadi special karena jamasan enceh tersebut merupakan jamasan benda peninggalan raja Mataram. Namun, disinggung masalah kesakralan air jamasan KRT Hastono menjelaskan bahwa itu berasal dari keyakinan para peziarah, karena “yakin” itulah air tersebut seolah-olah memberi spirit, padahal air tersebut hanyalah perantara yang dapat mengabulkan semua urusan dunia hanya Tuhan YME, terangnya.

(Foto dan artikel : Hanung H)