Melihat Tradisi Upacara Saparan Sorogeni

seorang peziarah tenagh memanjatkan doa di petilasan kyai dan nyai sorogeni

seorang peziarah tenagh memanjatkan doa di petilasan kyai dan nyai sorogeni

Upacara Saparan Sorogeni yang diperingati pada hari Selasa Pon setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa telah menjadi agenda rutin dari masyarakat Sorogenen, Banguncipto, Sentolo, Kulon Progo. Upacara tradisi yang kali ini jatuh pada hari Selasa (25/11/2014) ini ditujukan untuk mengingat kembali nenek moyang mereka yang bernama Kyai Sorogeni dan Nyai Sorogeni.

Tidak banyak informasi yang didapat tentang siapa dan darimana mereka berasal sebenarnya. Sejarah yang berkembang di masyarakat desa Sorogeni menyebutkan bahwa Kyai dan Nyai Sorogeni merupakan tokoh yang telah membuka desa Sorogeni, mereka berasal dari kerjaan Blambangan, Jawa Timur, namun ada juga yang menyebutkan bahwa mereka berasal dari Kerjaan Mataram. Bukti fisik dari keberadaan beliau adalah di desa Sorogenen terdapat petilasan atau bekas tempat bertapa Kyai dan Nyai Sorogenen yang ada diatas gunung karang, petilasan inilah yang sampai sekarang masih dikeramatkan dan disucikan tidak hanya oleh masyarakat sekitar Sorogenen namun juga dari luar daerah yang mempercayai secara magis dapat membantu mengatasi kesulitan dalam hidup.

ubo rampe  yang di bawa warga akan dibagikan kepada peziarah di upacara saparan

ubo rampe yang di bawa warga akan dibagikan kepada peziarah di upacara saparan

Upacara Saparan ini dimulai dengan mengumpulkan ubo rampe (makanan .red) yang berisi nasi gurih, ingkung ayam, pisang, rempeyek dan apem. Ubo rampe ini nantinya dikumpulkan menjadi satu di sekitar petilasan tersebut. Acara dilanjutkan dengan memanjatkan do’a dan kenduri yang dihadiri tidak hanya oleh warga sekitar bahkan warga dari luar daerah yang hajatnya merasa talah terpenuhi. Setelah acara kenduri dan berakhir masyarakat akan mendapatkan nasi bungkus beserta lauk pauk dari ubo rampe yang dibawa oleh masyarakat Sorogenen sehingga acara tersebut diakhiri dengan makan bersama.

Kepala Desa Banaran Lor (Sorogenen), Suparjan menerangkan bahwa upacara Saparan ini memang telah menjadi agenda tahunan masayrakat Sorogenen. Karena masyarakat Sorogenen mempercayai Kyai dan Nyai Sorogeni adalah nenek moyang dari desa Sorogenen. Bahkan nama Sorogenen asli desa karena wilayah tersebut masuk di desa Banaran Lor, namun masyarakat tetap menginginkan nama Sorogenen sebagai wujud syukur dan berteima kasih atas jasa Kyai dan Nyai Sorogeni.

para peziarah mendapatkan nasi bungkus dari ubo rampe yang dibawa oleh masyarakat sorogenen

para peziarah mendapatkan nasi bungkus dari ubo rampe yang dibawa oleh masyarakat sorogenen