Fraser Island: Mempererat Persaudaraan Dengan Off Road

Peserta fraser Island off Road

Peserta fraser Island off Road

Kunjungan salah satu crew teraswarta di Frases Island bersama dengan para sahabat warga Indonesia di Australia. Meluangkan waktu bersama berkegiatan untuk memperet persaudaraan tentu saja, dan inilah kisah keasyikan yang diwartakan oleh sahabat Yogiyono.

Fraser Island terletak kurang lebih 200km di sebelah utara Brisbane-Australia. Adalah sebuah pulau indah dengan panjang sekitar 175km dan lebar 24km, sehingga tidak mengherankan jika pulau ini disebut sebagai pulau pasir yang terbesar di dunia dengan luas keseluruhan 1840km persegi.

Rombongan kami terdiri dari 10 orang dewasa dan 3 anak. Kendaraan yang kami gunakan adalah Jeep Comander, Mitsubhisi Pajero,Toyota Hilux V6 dan Subaru Forester yang dikendarai oleh pakar mekanik dari kota Apel Malang. Kendaraan-kendaraan yang kami pilih untuk maksud mampu mengatasi medan berpasir tentu saja.

Kami berangkat pagi hari bersama-sama dan bekal pun sudah siap untuk Jumat Siang – Minggu siang, berarti 2 malam untuk 7 orang yang camping di pinggir pantai dan 6 orang yang tinggal di Villa.

Perjalanan sangat lancar dan menyenangkan yang diselingi dengan kontak-kontak dan banyolan dengan Walki talki disetiap kendaraan.

Tak terasa waktu perjalanan sudah 3.5 jam dan sampailah di tempat penyeberangan dengan perahu untuk sampai ke Fraser Island, namun kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan makan siang alakadarnya. Nasi goreng, Bakmi goreng, Nasi putih dan daging ayam cincang yang sudah disediakan dantak ketinggalan dengan bakwannya yang tentu jadi pengobat rindu juga akan makanan khas Indonesia.

Setelah semuanya tersegarkan kembali sehabis makan siang, perjalanan berlanjut untuk masuk ke perahu. 3 kendaraan berhasil masuk dengan mulus meskipun pasir yang sebagai tumpuan tidaklah keras. Nasib sial ada pada Jeep Comander lantaran sebelum masuk perahu terperosok ke dalam pasir dan ditinggalah mereka untuk naik perahu berikutnya karena menjadi kesepakatan waktu yang tidak bisa ditawar begitu saja.

Setelah sampai, 3 Kendaraan keluar dari perahu dan langsung tancap gas untuk mencari tempat yang longgar sambil menunggu jeep Comander yang bernasib malang. Waktu menunggu kami pergunakan bersama teman-teman untuk berfotoria, dan selfie dengan tongsisnya sebagai salah satu moment baik tentu saja, juga untuk minum dan menikmati makanan kecil yang dibawa.

Tak lama kemudian datanglah jeep yang kami tunggu dan kami menyusuri jalanan yang bergelombang dan berbatu kecil. Kami ingin keluar dari jalan ini dan mencari jalan di tepi pantai yang berpasir dan menantang. Ketemulah jalan yang kami inginkan. Jalan pasir yang bebas hambatan ditepi pantai pun kami lalui. Kecepatan 80km/jam di tepi pantai sudah menjadi jalan umum setiap orang yang mau menuju ke pulau ini dan bahkan ada landasan pesawat terbang yang dari pasir ,Pesawat ringan engan penumpang 8 orang saja.

Satu jam kemudian kamipun sampai di tempat yang kami inginkan, aksi mobil kami adalah mencoba menaiki bebatuan, masuk di air dan juga mencoba pasir yang lembut untuk diterjang, alhasil roda Subaru masuk kepasir cukup dalam dan harus ditolong. Peralatan yang komplit tidak menemui kesulitan dan akhirnya berjalan lancar.

Dingo si Anjing liar membawa malapetaka:

Dua tenda sudah kami dirikan meskipun tidak sempurna karena daerahnya berpasir sehingga pasak tak bias kuat. Waktupun masih terang maka kami tinggalkan Box yang penuh makanan dan daging di dalam tenda . Aman pikir kami dan kamipun keluar di sore hari menyusuri pantai. 3 Mobil ingin mencoba off road di malam haridan 1 mobil mencari tempat untuk memancing di hari berikutnya.

2 jam kemudian kamipun pulang, alangkah kagetnya tenda kami yang untuk menyimpan makanan sudah bergeser dari tempatnya. Kami selidiki dan ternyata robek dimana-mana. Ah..pasti Dingo si anjing liar yang merusak ini karena bau daging. Kamipun segera mengeceknya jangan – jangan Dingo masih ada di dalamTenda. Aman, dan tendapun kami dirikan kembali dan isi box masih utuh. Senang namuntetap was-was, kami bertiga masak air untuk membuat kopi.

Satu jam kemudian teman kami dating dari off road malam hari, berceritalah juga kalau menyenangkan jalan dimalam hari. Sayangnya, mobil Jeepnya rusak..bagian kabel dibawah mobil putus waktu terjadi benturan keras di jalan sehingga persenelengnya terganggu dan hanya bias masuk gigi 2 saja.

Hari Sabtu pagi kami pun siap untuk menjelajah beratnya . 3 mobil yang kami pakai dan perjalanan sepanjang mata memandang tetaplah pasir. Tak ada masalah mengemudikan di tepi pantai yang berpasir halus, baru kemudian kami masuk ke dalam dan menemukan tantangan. Jalan hanya bias satu arah saja dan itupun pasirnya tidak keras, kita pacu kendaraannya supaya tidak terjerembab ke dalam pasir.Terguncang-guncang kami semuanya dengan medan yang cukup berat dan terkadang kita seperti naik kuda karena gelombang pasir yang naik turun. Perjalanan satu jam di dalam hutan dan kamipun keluar lagi sampai di tepi pantai.

Aksi menantang di fraser Island

Aksi menantang di fraser Island

3 mobil dalam aksinya:

Kita istirahat sejenak di tepi pantai sambil berfotoria. Aksi pertama adalah mencoba satu persatu menyeberangi air yang menggenang. Aksi berikutnya seperti dalam fotoa dalah 3 mobil menyeberang bersama….danberhasil semuanya.

Acara selanjutnya adalah 2 mobil mengelilingi pantai dan satu mobil berisikan 3 orang untuk mincing ikan. Deburan ombak menerpa tebing karang yang tinggi dan kadang kami lupa untuk menghindar dan basah. Banyak ikan dan berbagai macam jenis yang sempat kami dapat, namun juga kami kembalikan karena belum layak dibawa atau kalau dengan istilah di sini belum memenuhi ukuran (legal size). Senang juga mancing di tempat ini karena ikannya kelihatan dan kadang ditemani kura-kura yang sangat besar. Merasa sudah cukup banyak yang kami peroleh maka kamipun pulang. Sial, mobil kami mogok karena jalanan yang penuh dengan pasir yang lunak sehingga terperosok ke dalam pasir,lumayan lama kami cari akal…gali pasir, pasang dahan pohon didepan ban namun tak berhasil. Untunglah ada satu mobil yang dibelakang kami dan dia membantu kami dan berhasil.

Sampailah kami ditenda, apa yang terjadi? bukan Dingo yang merusak tenda kami namun angin kencang yang merobohkan tenda kami.

Ikan kami bakar dengan bumbu kecap dan saus sambal yang cukup pedas…Ikan bakar masak dan teman kami yang berkeliling tadipun datang. Mari makan, ini hasil tangkapan kami mincing kalau kurang tambah lagi masih banyak seru temanku. Enak juga ikan bakar dengan bumbu alakadarnya dengan nasi putih yang kami panaskan. Sehabis makan, yang lelah ataupun mengantuk boleh tidur namun yang lain menghabiskan waktunya untuk bersendaugurau di bawah bintang-bintang sampai pagi hari.

 Jam 10 pagi kami meninggalkan tempat dan menyusuri jalan pasir. Jeep masih bias jalan namun tak bias cepat lalu kami memutuskan untuk digandeng sampai rumah. Perjalanan boleh dikatakan lancer dan kamipun istirahat di suatu tempat untuk makan siang dengan membakar daging kambing yang kami bawa.

Berat bagi Pajeronya namun apa boleh buat tetap harus setia menggandeng selama kurang lebih 4jam sampai di rumah.

Camping di pulau pasir ini sangat menyenangkan, kapan kita camping lagi dilain tempat? Berbagi cerita dan indahnya persaudaraan sesama asal negara Indonesia.

(Foto dan Artikel : A. Yogiyono)