Bersih Desa dan Suronan Desa Hargorejo Dihidupkan Kembali

Pagelaran wayang dalam rangka suronan dan bersih desa

Pagelaran wayang dalam rangka suronan dan bersih desa Hargorejo

Setelah pada tahun 1993 dan 1994 adalah acara bersih desa di desa Hargorejo, kokap digelar secara berturut-turut. Acara bersih desa dan juga suronan dilakukan kembali oleh desa yang terdiri atas 16 pedukuhan ini semalam tadi (kamis, 20/11/2014) dengan mengadakan pagelaran wayang semalam suntuk, mengundang dalang kondang Ki Hadi Widodo untuk membawakan cerita “Kresno Malang Dewo”. Adapun bintang tamu dihadirkan pelawak ternama Kang Waluh serta Wulan .

Hadir undangan dari berbagai kalangan mulai dari tingkat RT yang masing-masing diwakili oleh lima tokoh masyarakat, para lurah di kecamatan kokap, lurah tetangga desa, beberpa pejabat DPRD dan masih banyak lagi, berbaur dalam kebersamaan yang telah lama dinanti tentunya, melanjutkan lestarinya sebuah budaya warisan nenek moyang suronan serta kesenian wayang kulit.

“Bersih desa dan suronan ini adalah sebuah gebrakan baru yang dalam rencana ke depan akan di jadikan sebagai kegiatan tahunan, yang akan selalu dipusatkan jadi satu di balai desa kecuali di Ngulakan mengingat di tempat tersebut terdapat cagar budaya dan religi sehingga memang bisa mengadakan sendiri. Acara bersih desa dan suronan ini sebagai cara untuk mengangkat budaya jawa serta sarana untuk menyatukan warga masyarakat desa Hargorejo pada khususnya”, ungkap Kepala Desa Hargorejo, Bapak Adi Purnomo saat ditemui team teraswarta menjelang acara dimulai.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa acara ini terselenggara atas kerjasama swadaya masyarakat dari 16 pedukuhan, donatur, juga masyarakat peduli. Warga Kriyan secara khusus mendapat tugas sebagai sinoman sedang peladen datang dari sub karang taruna dari Sambeng. Sound sistem dan tenda disumbang sendiri oleh bapak Kepala Desa.

Masyarakat dan pejabat yang duduk bersama

Masyarakat dan pejabat yang duduk bersama

Di tempat terpisah di sela-sela acara bersih desa dan suronan ini camat kokap Bp Drs. Mitoto Ciptosuroso mengungkapkan harapannya akan acara ini agar masyarakat menjadikan kegiatan ini sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen, wujud “nguri-uri” kebudayaan lokal, menumbuhkan kembali rasa gotong royong yang mulai pudar serta yang terakhir adalah harapan akan masyrakat yang mampu belajar dari lakon wayang untuk mampu menilai mana yang baik dan buruk untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

(foto dan artikel : chip)