Jamasan Mahkota Raja Di Puncak Suroloyo

Porsesi jamasan pusaka berupa Mahkota yang diberikan langsung dri Keraton Yogyakarta

Porsesi jamasan pusaka berupa Mahkota yang diberikan langsung dari Keraton Yogyakarta

Puncak Suroloyo yang digadang-gadang merupakan puncak tertinggi di DIY, yang juga mempunyai hawa sejuk diyakini oleh masyarakat Yogyakarta sebagai tempat yang konon dahulunya Sri Sultan HB I (Pangeran Mangkubumi) melakukan pengamatan sebelum memutuskan membangun Keraton Yogyakarta yang saat itu masih merupakan alas Paberingan.

Di tempat inilah juga setiap peringatan Satu Suro atau tahun baru dalam kalender Jawa dilakukan Jamasan (membasuh.red) pusaka di sendang Kawidodaren. Prosesi biasanya diawali sejak malam hari sebelum prosesi Jamasan dimulai. Prosesi pertama yang dilakukan oleh masyarakat desa beserta pamongnya adalah menggelar kenduri atau makan kembul bagi siapa saja yang berada di sendang Kawidodaren diajak untuk makan bersama. Setelah prosesi tersebut juru kunci akan meminta ijin bahwa keesokan harinya Jamasan akan dilaksanakan. Sementara itu di tempat yang berbeda warga desa merangkai gunungan terbuat dari berbagai hasil bumi untuk acara kirab keesokan harinya.

seorang warga mengambil air bekas jamasan di Sendang Kawidodaren, Suroloyo

seorang warga mengambil air bekas jamasan di Sendang Kawidodaren, Suroloyo

Keesokan harinya seluruh warga Suroloyo melaksanakan kirab gunungan besarta pusaka Keraton yang akan di Jamas. Sesampainya di Sendang Kawidodaren gunungan yang dibawa kirab akan diperebutkan warga sementara itu di sendang dilaksakan Jamasan pusaka yang rutin digelar setiap tahunnya melalui prosesi adat. Namun, ada yang berbeda di tahun ini (2014), warga Suroloyo mendapatkan pusaka berupa duplikat mahkota dari Prabu Jayabaya. Mahkota yang berjumlah lima buah ini merupakan pemberian dari Keraton Yogyakarta yang sengaja akan di tempatkan di Suroloyo.

Hal ini diterangkan oleh sesepuh desa yang bernama Mbah Marjo, seorang sesepuh desa yang selama ini dipercaya oleh Keraton Yogyakarta sebagai juru Jamas pusaka. Dirinya menerangkan bahwa kelima mahkota raja yang di letakan di Suroloyo adalah pemberian dari Keraton Yogyakarta. Berbeda dengan Tombak Songsong (tombak yang mempunyai payung) serta sebuah keris yang harus kembali ke Keraton, kelima Mahkota ini sengaja diserahkan di Suroloyo sebagai tanda spiritualitas antara Puncak Suroloyo dengan Keraton Yogyakarta.

(foto dan artkel : Hanung H)