Festival Reyog Nasional Ponorogo

 Festival Reyog Nasional Ponorogo 2014

Festival Reyog Nasional Ponorogo 2014

Sebuah acara Festival Reyog Nasional Ponorogo yang dinanti oleh sekian banyak orang dari berbagai tempat akhirnya dibuka dengan sangat meriah dua hari yang lalu (sabtu, 18/10/2014). Berikut adalah hasil reportase rekan nanang Diyanto untuk sahabat teras.

Petang baru saja usai namun alun-alun Ponorogo sudah berjubel, suara gamelan menggelegar dari sound system yang dipasang di setiap sudut pangggung utama. Jalanan ramai diberlakukan satu arah untuk mengurai kemacetan, dan saya lebih memilih parkir motor di luar alun-alun, dan banyak parkir (penitipan) motor atau mobil di luuar kawasan alun-alun agar leluasa memasuki kawasan alun-alun.

Acara dimulai dengan tampilnya puluhan penari yang mewakili dari masa ke masa Kadipaten Ponorogo, mulai babad Ponorogo sampai jaman kemerdekaan. Penari berjalan dari sudut timur pangggung utama dan melakukan penghormatan kepada tamu, dan selanjutnya masuk kembali ke ruang ganti melalu sudut barat. Penari melibatkan para siswa SMU dan SMP yang ada di kabupaten Ponorogo.

Setelah deivile masuk langsung keluar 20-an penari, tariannya tak begitu jelas namanya namun lincah dan dan dinamisnya mirip jaipong, dan lembutnya seperti tari gambyong. Tari ini tergolong kreasi baru namun nuansa Ponorogoannya begitu kental dari gerakan dan pakaian, serta gamelannya. Tarian ini mirip pesta rakyat atas keberhasilan suatu pencapaian. Tarian ini mewakili lapisan masyarakat mulai desa sampai kota, dari masyarakat seni sekaligus masyarakat santri, perpaduan  yang saling melengkapi dan tidak mendominasi antara lapisan (kelompok) satu dengan lainnya.

Tari kebatan, kebatan diambil dari gerakan reyog ‘Ngebat’ yang artinya bergerak dan bangkit, ini adalah pesan dari pencipta tari untuk kebangkitan Ponorogo atau Indonesia untuk lebih baik. Penarinya berpakain dan ber make up lucu, separoh wajah cantik dan saparohnya lagi macan yang menyeramkan, daan berpakaian atribut reyog dihiasi bulu merak. Mirip group reyog yang dikemas mini dan di mainkan satu orang. Gerakannya lincah meski meliuk-liuk seperti harimau yang bermahkota burung merak.

Tarian reyog dalam bentuk pakem (baku) juga ditampilkan, kali ini juga di tampilkan oleh siswa-siswa SMK (STM), mulai keluarnya warog, dan diikuti tarian jathilan, ganongan, bujang ganong dan dadag merak. Meski umur masih muda mereka terampil membawakannya, mungkin sudah terlatih atau terbiasa membawakannya karena menjadi seni wajib di sekolah-sekolah, wajib bisa membawakannya.

Festival Reyog Nasional kali ini memasuki tahun yang ke XXI memperebutkan piala Presiden, penyerahan piala dari pemenang tahun lalu kepada bupati, dan selanjutnya bupati menyerahkan kepada panitiya untuk diperebutkan lagi di FRV XXI kali ini. Pemukulan gong oleh bupati sebagai imbolik dimulainya FRN XXI dan dimulainya rangkain Grebeg Suro, seperti biasanya setiap Grebeg Suro diikuti pasar malam di alun -alun seputar panggung utama, pemilihan Kakang dan Senduk Ponorogo, Kirab budaya, Ziarah Makam Leluhur, Pameran fotography tentang budaya, Larungan dan risalah doa di telaga Ngebel, pertunjukan wayang kulit, kethoprak. Dan acara baru berakhir tanggal 1 Muharam.

Pada penampilan pembukaan ini ada yang menarik dengan tampilnya sendra tari kolosal yang mengisahkan tentang perjuangan Raden Katong (Sunan Katong) utusan dari kerajaan Demak Bintoro untuk meredakan pembangkangan oleh Demang Ki Ageng Kutu kepada kerajaan Mojopahit (Prabu Brawijaya). Demang kutu menyindir Raja Brawijaya dengan menciptakan tarian reyog macan yang ditunggangi oleh merak, karena kala itu prabu Brawijaya memeluk agama Islam lewat Putri Cempa istri beliau. Dan ini menjadikan pergolakan dan penolakan dari sebagian demang.

Kesaktian Ki Ageng Kutu sungguh mumpuni, sehingga Sunan Katong memerlukan cara untuk mengalahkannya. Kisah ini diwarnai dengan drama percintaan antara Radeng Katong dengan Niken Gandini yang tak lain puteri Ki Ageng Kutu. Dan pertempuranpun terjadi dan kemenangan berpihak pada Raden Katong, dan agama Islampun subur di kadipaten Ponorogo. Radenan Katong yang tak lain adik Raden Patah yang juga merupakan putera Prabu Brawijaya mendapatkan suport dari Demak Bintoro dengan dikirimnya  guru agama untuk membantu menyebarkan agama Islam di Ponorogo.

Selesainya tarian drama kolosal dilanjutkan pesta kembang api, sebagai tanda dimulainya rangkaian grebeg suro dan sebagai tanda pembukaan FRN XXI malam tadi diakhiri.

 (artikel dan foto : Nanang Diyanto – Kompasianer)