“Ethnic art of Java” Mengenal Potensi Daerah Melalui Karya Foto

Pengunjung Pameran Fotografi

Pengunjung Pameran Fotografi

Kisah sekaligus reportase yang menarik dan inspiratif dari ponorogo tentang bagaimana mengangkat potensi daerah setempat melalui sebuah ajang fotografi. Sebuah pameran yang dibuka minggu kemarin (12/10/2014) dengan mengangkat tema menyesuaikan Grebeg Suro “Ethnic art of Java”, foto-foto tentang budaya serta potensi wisata yang ada di Ponorogo.

Awalnya sempat ragu-ragu untuk menggelar pameran foto dalam rangka perayaan Grebeg Syuro kali ini, karena selama ini fotografi terasa kurang mendapatkan tempat di setiap ivent di kabupaten Ponorogo. Namun keraguan langsung sirna ketika draf kami mendapat tanggapan dari kepala Dinas Pariwisata Pak Sapto, bahkan beliau mengabarkan bupati sangat antusias dan memberikan tempat pendopo kabupaten untuk tempat pameran, luar biasa perhatian bupati dengan menempatkan kami di tempat sakral itu.

Tepat jam 8 malam sebelum acara ajang pemilihan ‘Kakang dan Sendok Ponorogo’ bupati membuka pameran dengan “menjepretkan” beberapa frame ke arah undangan dan pengunjung sebagai tanda secara resmi pameran foto dibuka.

Bupati sangat bangga dengan adanya pameran ini, dan berjanji akan mengagendakan dalam setiap ivent budaya di Ponorogo. Bupati sangat berterima kasih pada segenap panitia, dengan adanya pameran ini diharapkan dunia mengenal budaya dan potensi budaya dan wisata di daerahnya. Banyak potensi budaya yang belum tergali dan bisa diabadikan lewat foto-foto dalam pameran ini.

Takjub, tertegun, heran ternyata banyak hal yang ada di Ponorogo yang belum terpublikasi dan dalam pameran kali ini bisa dipublikasikan. Coban Lawe contohnya yang selama ini belum dikenal masyarakat menjadi dikenal. Dan bupati berjanji akan mengoptimalkan potensi yang ada di daerahnya.

Dengan berdatangannya para perwakilan kontingen festival reyog nasional kali ini diharapkan juga sekembalinya para kontingen ke daerah asal mampu menceritakan dan mengabarkan apa yang ada di Ponorogo setelah melihat foto-foto dalam pameran ini.

Foto-foto kegiatan seni di daerah yang diabadikan lewan foto human interest membuat para ibu-ibu histeris, berkali-kali mereka dibuat terkagum, lewat ekpresi para pengunjung kita bisa membaca antusias pengunjung. Dan tak jarang pengunjung tertawa terbahak ketika melihat foto-foto yang lucu.

Pemilihan Kakang dan Senduk diharapkan juga bisa mempromosikan budaya dan wisata di Ponorogo, dan kami bersama-sama ingin mengenalkan budaya dan wisata, meski jalan kami berbeda melalui hasil jepretan namun kami yakin kami pasti bisa.

Puas rasanya meski masih hari pertama namun sambutan sudah luar biasa, dan malam itu juga kami mendapat kehormatan untuk melanjutakan pameran ini di maal PCC (Ponorogo City Center) besok tanggal 19-25 Oktober 2014 ini, dan dilanjutkan pameran di RSUD Harjono Ponorogo dalam rangka HUT RSUD.

Foto dan Artikel : Nanang Diyanto – Kompasianer

Editor dan repost  : Chipriant