Komunitas Onthel : Djokja Segoro Onthel

Djokja Segoro Onthel

Djokja Segoro Onthel

Keindahan nuansa klasik melekat di kota Yogyakarta. Kota yang terkenal akan identitas budaya arif dan bijaksana. Kota ini tidak akan pernah biasa, banyak keistimewaan yang tersimpan dan terjaga dengan baik oleh masyarakatnya. Sebuah simbol kejayaan akan budaya yang selaras dan seimbang antara masyarakat dengan alam masih tertancap kokoh di jantung kota dan berakar kuat di hati rakyatnya. Merupakan suatu kebanggaan jika kita dapat menikmati dan menjadi bagian dari Yogyakarta.

Dahulu, kayuhan sepeda selalu berdecit di seluruh penjuru jalanan kota ini. Selaksa lantunan irama yang mampu meberikan ketentraman dan keteduhan. Yogyakarta merupakan salah satu kota yang menyandang predikat sebagai kota sepeda. Bahkan pada masa kejayaannya, sepeda merupakan alat transportasi utama yang digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak terkecuali di lingkungan Kraton Yogyakarta, para Abdi Dalem, pejabat pemerintah, pegawai kantor, mandor-mador, kalangan pelajar, pedagang sampai dengan kuli panggul di pasar Bringharjo semua menggunakan sepeda untuk membantu meringankan segala macam urusan. Dengan adanya sepeda pada waktu itu, mobilitas masyarakat menjadi lebih mudah dan cepat.

Sepeda tidak berhenti sampai di situ saja. Bagi para petani, pedagang, pengrajin garabah, pelajar dan masyarakat di wilayah kabupaten Bantul, sepeda merupakan sahabat bahkan telah dianggap sebagai keluarga. Kehadiran sepeda bagi iklim kebudayaan masyarakat Bantul adalah karunia. Sepeda menjadi tumpuan dalam membangun perekonomian masyarakat, mendorong kemajuan di bidang pendidikan, memberikan alternatif dalam hal transportasi. Keadaaan itu, secara tidak langsung sepeda membentuk kebudayaan dan kepribadian masyarakat Kabupaten Bantul. Kehadiran sepeda di tengah-tengah keluarga merupakan suatu simbol dari keluarga yang rukun dan bersahabat dengan alam.

Bumi berguncang di waktu pagi 27 Mei 2006. Segala hal yang telah berdiri menjadi tumbang. Infrastruktur porak poranda, hal ini berpengarauh pada semua sistem yang sudah tertata. Beragam gejolak-pun berkembang menjadi persoalan di tengah masyarakat. Pandangan toleransi budaya baru dijadikan revolusi kebangkitan sosial-budaya secara instan. Secara berkala dan dalam tempo waktu singkat, suara kayuh sepeda di Bantul telah tergantikan dengan dengung kendaraan bermotor.

Alam menjadi penanda akan suatu perubahan peran. Mulai saat itu sepeda telah digantikan dengan kendaraan bermotor. Sepeda pun tersandar di pojok-pojok bangunan rumah, sebagian ada yang tergantung di tembok-tembok rumah sebagai barang kenangan. Lalu kemanakah perginya para pedagang yang sebelum fajar berbodong-bondong menuju “Negoro” ( Kota Yogyakarta)? Lewat jalan manakah para pelajar untuk dapat sampai ke sekolah hingga mereka tidak nampak bersepeda? Yang saat ini tidak terlalu sering terlihat adalah para pedagang, pengrajin dan petani tua yang masih menganggap sepeda sebagai bagian dari keluarga.

Djokja Segoro Onthel merupakan suatu kegiatan yang diwadahi oleh AKON (Asosiasi Klitikan Onthelis Nusantara) Yogyakarta dimana komunitas ini berlatar belakang sebagai pedagang onderdil sepeda tua yang peduli dan berusaha untuk melestarikan budaya bersepeda di Indonesia. Dengan mempertimbangkan rekam sejarah dan kebudayaan bersepeda oleh masyarakat Kabupaten Bantul, maka AKON Yogyakarta sangat yakin untuk melaksanakan kegiatan Djokja Segoro Onthel di Kabupaten Bantul. Lebih tepatnya kegiatan ini akan dilaksanakan di pesisir pantai Parangtritis Baru.

Kegiatan Djokja Segoro Onthel merupakan salah satu agenda silaturahmi bagi sesama Onthelis. Kegiatan ini akan dihadiri oleh Onthelis dari seluruh wilayah di Indonesia. Kehadiran para Onthelis dalam jumlah yang sangat banyak ini juga bermaksud untuk mengenang kejayaan sepeda onthel di Bantul, dimana dahulu pernah berdiri sebuah pabrik sepeda onthel di daerah Mangiran, dan juga para Onthelis bermaksud melakukan silaturahmi dengan masyarakat Kabupaten Bantul . Disamping itu, Kegiatan ini dapat berfungsi sebagai sarana melestarikan budaya bersepeda dan membangkitkan kembali gairah bersepeda bagi masyarakat Yogyakarta pada umumnya dan masyarakat Kabupaten Bantul pada khususnya. AKON juga memiliki harapan-harapan, terselenggaranya kegiatan Djokja Segoro Onthel di wilayah Kabupaten Bantul dapat memberikan manfaat di bidang ekonomi bagi masyarakat di skitar pantai Parangtritis dan dapat dijadikan sebagai salah satu kegiatan pendukung promosi pariwisata Kabupaten Bantul.

Kegiatan Djokja Segoro Onthel akan dilaksanakan pada hari ini serta esok hari (Sabtu dan Minggu, 6 – 7 September 2014), bertempat di pantai Parangtritis Baru, dusun Mancingan, Parangtritis, Kretek, Kabupaten Bantul. Acara tersebut akan dimulai pada hari Sabtu jam 16-00 wib – sampai selesai dan Minggu 06.00 – selesai. Acara ini akan dimeriahkan dengan beragam kegiatan diantaranya: : Peresmian KOSTI Jogja, Labuhan Onthel, Ngonthel Surup, Ngonthel Enjing, Reresik Pantai, Balap Onthel 100 M, Pasar Klitikan, Rembug Onthel, Gejlog Lesung, Pameran dan Bursa Onthel.

(Oleh: Agung Nugroho)