Upacara Adat Sermo Hamengku Gati

Upacara adat sermo hamengku gati

Upacara adat sermo hamengku gati

Sebuah upacara adat yang telah ada turun temurun sebagai salah satu cara mengucap syukur kepada Tuhan atas rejeki berupa hewan ternak dilakukan kembali oleh masyarakat Kampoeng Nggudang, Waduk Sremo, Kokap, Kulon Progo kemarin pagi sampai sore (selasa, 26/8/2014). Acara adat tradisi yang dilakukan setiap dua tahun sekali di bulan syawal ini dikenal dengan “Sremo Hamengku Gati”.

Diawali dengan kirab budaya yang melibatkan berbagai element masyarakat serta potensi-potensi kesenian lokal pada pukul 10.00 wib menuju ke waduk sermo yang tak urung menarik ratusan pengunjung untuk meyaksikan, acara kemudian dilanjutkan dengan acara tabur bunga untuk mengenang dan menghormati para leluhur ditengah waduk dengan menggunakan beberapa perahu yang telah disediakan oleh panitia dan peserta yang lain (masyarakat) menunggu di pinggir waduk Sermo.

Ritual tabur bunga di tengah waduk

Ritual tabur bunga di tengah waduk

Setelah prosesi di tengah waduk ini selesai, peserta kemudian kembali ke daratan dan melanjutkan prosesi “ngguyang Raja Kaya”, yaitu sebuah tradisi memandikan hewan ternak yang adalah “Raja Kaya” (kekayaan) dengan air bunga yang telah didoakan sebelumnya oleh tokoh agama bersama-sama dengan masyarakat. Ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur dan “kecintaan” pada ternak-ternak yang adalah juga rejeki. Demikian dituturkan oleh panitia.

Meski tak dihadiri oleh pejabat-pejabat penting seperti Bupati, Camat dan kepala desa yang berhalangan hadir, acara ini tetap berlangsung meriah dan penuh semangat, terlebih acara yang telah ketiga kali diadakan ini pada awalnya memang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.

Tak cukup di sini saja, gunungan berupa bahan-bahan hasil bumi, tumpeng, ingkung (ayam), dan lainnya juga diperebutkan dalam acara ini. Membawa suasana semakin marak dan meriah, masyarakat berbaur menjadi satu untuk memperebutkannya sebagai salah satu tradisi “ngalap berkah”. Maksudnya adalah bahan-bahan yang didapat biasanya akan disimpan dirumah sebagai satu hal yang telah tersucikan, dan berharap membawa berkah hasil yang sama atau melimpah karena bahan dari gunungan adalah bahan-bahan yang memang terpilih.

Yang nampak mengurangi kesan tradisional adalah munculnya kendaraan sponsor yang membawa nama sebuah “modern market”. Mengalahkan beberapa pedagang tradisional yang menggelar dagangannya menggunakan lembaran tikar atau “kandhi” (bahan pembungkus tepung,dll).  Hal ini terungkap dari beberapa pengunjung yang hadir kemarin.

Sebuah upacara adat menarik, sarat makna tradisi dengan kearifan lokal yang digagas oleh masyarakat setempat dalam ungkapan rasa syukur bekerjasama dengan dinas pariwisata dan kebudayaan. Acara yang juga mengangkat tak hanya adat budaya namun juga memperkenalkan kesenian-kesenian lokal kepada pengunjung yang datang dari berbagai tempat untuk menyaksikan acara ini.

(Foto dan artikel : chipriant)