Tradisi Lokal Warga Gedangrejo: Cing-Cing Goling

Persiapan "ubo rampe" acara cing-cing goling. (Fotografer : Hery Fosil)

Persiapan “ubo rampe” acara cing-cing goling. (Fotografer : Hery Fosil)

Sebuah acara tradisi lokal yang cukup meriah diadakan di Karangmojo Senin (18/8/2014), tradisi warga Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Tradisi Cing-Cing Goling adalah acara budaya yang menceritakan tentang dua prajurit Kerajaan Majapahit yaitu Wisangsanjaya, dan Yudopati dalam menaklukkan perampok dan membuat bendungan yang dikerjakan hanya satu malam, tujuannya untuk kemakmuran masyarakat.

Upacara Cing-cing Goling dapat dikategorikan sebagai upacara selamatan atau ungkapan rasa syukur oleh petani. Ritual rutin setiap tahun itu dilakukan dengan memotong ratusan ayam kampung untuk dijadikan ingkung sebagai uborampe (perlengkapan) sesaji. Setelah ingkung dan sayur dicampur lalu didoakan pemangku adat desa, ingkung bersama nasi gurih dan lauk, dibagikan kepada para pengunjung ritual di dekat Bendungan Gedangrejo Kali Beton.

Cing-cing Goling selalu mendapat perhatian dari ratusan pengunjung dari Gunungkidul khususnya dan berbagai wilayah DIY dan Jawa Tengah yang ngalap (berharap berkah). Mereka berkumpul di bawah pohon besar yang rindang untuk mengikuti kenduri massal.

Pagelaran tarian kolosal tentang pelarian prajurit Majapahit, Wisangsanjaya, dan Yudopati menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Dua prajurit tersebut diceritakan bersatu dengan warga untuk mengusir perampok. Hampir seluruh adegan puluhan orang berlarian menginjak-injak tanaman pertanian milik warga di sekitar bendungan, untuk mengusir gerombolan penjahat.

Meskipun tanaman diinjak-injak, namun para petani tidak marah. Warga percaya, tanaman yang diinjak-injak tidak akan mati, namun justru bertambah subur. sambil menari, para penari berteriak-teriak ,”Cing goling cing goling”.

Tradisi yang dilaksanakan sebelum upacara rasulan (bersih desa) itu juga menceritakan tentang keberhasilan dua prajurit membuat sungai dan bendungan. Menurut cerita yang berkembang, hanya dengan senjata berbentuk tongkat dan cethen (cemeti) yang digoreskan pada tanah sambil berjalan, bekas goresan itu berubah menjadi sungai dengan air yang mengucur deras.

Keberhasilan membuat bendungan dimanfaatkan warga untuk pengairan sawah, hingga membuat kesejahteraan warga meningkat. Selesai upacara, seluruh peserta kenduri membawa pulang makanan yang terdiri dari ayam, sayur, dan nasi menggunakan wadah yang terbuat dari anyaman bambu.

Sebuah Tradisi lokal yang layak untuk di uri-uri (red. Dijaga kelestariannya) agar pesan-pesan di dalamnya yang sarat nilai kearifan lokal menjadi nuansa dalam kehidupan bermasyarakat.

(Foto dan artikel : Hery Fosil)