Semarak Jogja Percussion Festival 2014 Gunungkidul

Salah satu kelompok yang tampil dalam jogja percussion festival 2014

Salah satu kelompok yang tampil dalam jogja percussion festival 2014

Di pandu oleh MC Alit, acara “Jogja Percussion Festival 2014” di Balai Desa Kepek, Wonosari, Gunungkidul berlangsung cukup meriah malam tadi (15/8/2014). Gelaran pertama dari 4 kabupaten yang direncanakan mengadaan acara yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DI Yogyakarta ini.

Tampil dalam kesempatan malam tadi 10 kelompok kesenian tradisional perkusi dari berbagai tempat seperti dari Semanu, Wonosari, Logandeng, Nglipar, Pulutan, yogyakarta dan Kepek sendiri yang dalam kesempatan ini menjadi tuan rumah.

Acara ini sangat perlu dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan sebagai salah satu penyemangat tersendiri tentunya bagi para peserta. Terlebih alat musik yang dimainkan ini adalah alat-alat yang memang dulunya ada sebagai salah satu alat yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat seperti “kenthongan”. Dan ini adalah pertama kali masyarakat ini tampil di event besar semacam ini sehingga bisa dilihat bagaimana antusianya mereka, selain menjaga tradisi yang ada, ungkap Sumarno Keling juga Dwi Kristiani yang adalah pendamping desa budaya yang juga merupakan salah satu program yang di miliki oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayan DI Yogyakarta.

Sementara secara terpisah Koordinator “jogja Percussion Festival 2014, Gunungkidul” mas Yudha atau yang akrab disapa dengan nama “Coklat” ini mengatakan rasa senangnya atas antusiasnya para peserta juga masyarakat yang hadir dalam acara ini. Tak lepas beliau mengucapkan terimakasih pula atas suport penuh dari dinas juga siapa saja yang turut andil dalam acara yang melulu “nguri-uri (menjaga) warisan tradisi lokal yang ada, khususnya di gunungkidul.

Saat kami tanya kenapa memilih perkusi dan bukan kesenian yang lain? Beliau mengatakan bahwa ini adalah salah satu cara mengakomodir tradisi lokal gunung kidul untuk dihidupkan kembali, dikembangkan kembali sedang secara spesifik sebetulnya tidak ada keharusan melulu permainan perkusi. Hanya saja alat-alat seperti kenthongan, lesung adalah alat-alat yang masih murni dan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat gunungkidul pada masa-masa lalu bahkan saat ini. Alat-alat yang bila dimainkan dengan teratur pada ketukan atau pukulan tertentu, bisa juga digabungkan dengan alat musik lain sehingga mampu menghasilkan sesuatu yang indah untuk didengarkan dan juga disaksikan seperti yang terlihat malam ini.

(foto dan artikel : chipriant)