Pak Doel Pelestari Barongsai di Kampung Sutodirjan

Pak Doel dengan baronngsai karyanya

Pak Doel dengan baronngsai karyanya

 

Sore itu Jumat tanggal 15 Agustus 2014 jam 17.15, lalu lintas kendaraan mulai lengang, karena sebentar lagi senja akan menjelang. Perkampungan Sutodirjan yang begitu padat ditengah pusat kota Yogyakarta masih tampak ramai anak-anak berlarian gaduh di jalan gang-gang sempit. Kampung Sutodirjan terletak disebelah barat Kampung Joyonegaran atau lebih pasnya ditikungan barat jalan sebelah utara Pasar Pathuk yang terkenal dengan pusat oleh-oleh khas Yogyakarta.

Adalah Bapak Martinus Doel Wahab, yang usianya menginjak 82 tahun namun semangatnya masih menggelora ketika bercerita tentang kesenian Barongsai. Pak Doel sapaan akrabnya tinggal di kampung Sutodirjan GT II/855 Yogyakarta. Di dalam rumahnya, bagian dinding ruang tamu dihiasi pigura tentang foto, liputan berita, dan kliping sosoknya yang masih konsisten menekuni kesenian Barongsai.

Beliau merupakan pionir Barongsai di kampung tersebut. Kesukaan beliau terhadap Barongsai dimulai sejak berumur 12 tahun. Sepulang sekolah ia selalu melewati Hohab atau tempat latihan Barongsai untuk warga keturunan Tionghoa. Tepatnya di seputaran kampung yang sekarang menjadi pusat Toko Ramai Mall. Mulai dari situlah Pak Doel menaruh minat untuk menekuni Barongsai sekaligus berlatih silat.

Awal memilih Barongsai sebagai jalan hidup, ketika tahun 1991 Pak Doel pensiun dari pekerjaannya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta. Kecintaan Pak Doel dimulai dengan seringnya membuat topeng kepala naga Barongsai. Sampai akhirnya, Pak Doel mengajak para warga kampung Sutodirjan untuk membuat Kelompok Barongsai Isaku Iki. Nama tersebut diambil dari ungkapan canda bahwa “ketika bermain Barongsai bagus dinilai ya isaku iki, ketika bermain jelek ya isaku iki” papar Pak Doel sambil bercanda. Bahkan ketika perayaan Imlek datang, kelompok ini cukup laris mendapatkan tanggapan pentas diberbagai tempat.

Kelompok Isaku Iki sekarang dilimpahkan kepada putrinya yaitu Ibu Lusia Sri. Dimana tongkat estafet pelestarian saat dipercayakan kepada anaknya. Semua koleksi naga atau liong dan beberapa alat musik masih tersimpan di rumah Bu Lusia, karena rumah Pak Doel yang kecil di dalam gang sudah tak mampu lagi menampung dan menyimpannya.

Pak Doel menceritakan Barongsai sendiri mempunyai filosofi bernama Shanse yang berarti singa gunung. Singa gunung konon merupakan binatang kesayangan para dewa. Barongsai sendiri mempunyai nama istilah barongan ketika di tanah Jawa, jika di Republik Rakyat CIna sering disebut Liong.

Sudut ruang kisah beliau dari berbagai media

Sudut ruang kisah beliau dari berbagai media

Semangat Pak Doel memang luar biasa, diusianya yang sudah senja beliau masih membuat kerajinan Barongsai mini untuk anak-anak. Barongsai tersebut lengkap dengan kepala naga dan kain berhiaskan manik-manik yang cukup rumit pembuatannya. Tangan Pak Doel masih terampil membuat topeng-topeng kepala naga dengan bahan dasar kertas, dan ini sudah sangat langka di Yogyakarta. Pak Doel layak diapresiasi oleh siapapun dan pemerintah seharusnya memperhatikan ini.

Prestasi Pak Doel membawa kesenian Barongsai juga tak diragukan lagi. Pak Doel pernah melawat ke mancanegara dalam misi kebudayaan bersama Pemerintah Kota Yogyakarta ke negara Hongaria, Cekoslovakia, Rusia, Mesir dan pernah mampir di Colombia. Hebat bukan? Pak Doel saat ini tetap menjadi sosok yang sederhana meski tinggal di rumah dengan di apit gang sempit. Semangat berkreasi Pak Doel tak pernah surut, sosok fisiknya juga masih terlihat kuat karena beliau cukup hobi berolahraga silat diwaktu mudanya. Sampai saat ini Kelompok Barongsai Isaku Iki beranggotan 75 orang mulai dari anak-anak sampai dengan terobosan baru yaitu Barongsai ibu-ibu. Pak Doel, jasamu dalam menyelematkan seni kerakyatan Barongsai sungguh luar biasa dan sampai kini masih konsisten.

[Foto dan Artikel : Elyandra Widharta]