Pagelaran Seni Budaya Padepokan Sumur Kitiran Mas Pakem

Pagelaran wayang padepokan SKM

Pagelaran wayang padepokan SKM

Bunyi gemelan terdengar dalam nada-nada unik yang indah yang dimainkan oleh para pemain (pengrawit) dalam sebuah pagelaran wayang semalam tadi (kamis, 14/8/2014) oleh Ki Dalang Wiyono Putro Hargo dari cangkringan dengan judul Wahyu Purbo Sejati di depan sebuah pastoran Maria asumta di Paroki Pakem, Yogyakarta. Para penari cantik juga turut ambil bagian di sela acara yang disusun dalam rangkaian pagelaran wayang kulit, karawitan, Limbuan dan beksan (tarian).

Sebuah acara yang digelar dalam rangka peringatan hari kemerdekaan RI ke 69, ungkapan syukur atas terlaksananya pemilu meski dalam proses penyelesaian, ungkapan syukur atas peringatan pelindung paroki, serta tirakatan perpisahan Rm. Yustinus witokaryono, Pr yang adalah salah satu pendamping di sanggar ini, ungkap panitia.

Lebih lanjut dari tujuan acara ini adalah juga sebagai salah satu langkah dan cara untuk turut menjaga budaya yang ada. Bertumbuh dan juga berkembang sebuah budaya yang juga perlu adanya cara-cara baru agar lebih menarik dan juga menyesuaikan dengan perkembangangan jaman. Hal ini diungkapkan oleh Rm. Ys Wito yang adalah juga salah satu penasehat http://www.teraswarta.com di sela-sela pertunjukan. Yang dalam acara semalam juga didaulat untuk tampil sebagai dalang dadakan dengan versi beliau yang membuat wayang dalam bentuk karakter-karakter bukan tokoh-tokoh pewayangan.

Kalaborasi sendratari teatrikal dan wayang

Kalaborasi sendratari teatrikal dan wayang

Meski acara ini diadakan di lingkungan gereja namun pemainnya tak melulu dari umat gereja saja melainkan juga ada dari masyarakat non gereja. Menariknya juga tampil Mbah Sarwiji, seorang waranggana atau pemain musik gamelan yang memiliki keterbatasan indera yakni kebutaan, namun mampu memainkan alat musik dengan sangat lancar dan bagus.

Sebuah acara kecil yang “sederhana” namun inspiratif untuk menjadi salah satu contoh bagi kreator-kreator seni di manapun tanpa juga menjadikan sebuah perbedaan sebagai hambatan untuk menjaga lestarinya kebudayaan-kebudayaan lokal.

(foto dan artikel : chip)