Melihat Eksistensi Gerobak Sapi Dalam Bantul Expo 2014

gerobak sapi ikuti arak-arakan di pembukaan Bantul Expo 2014

gerobak sapi ikuti arak-arakan di pembukaan Bantul Expo 2014

Bantul Expo yang dibuka oleh Bupati Bantul Sri Surya Widati pada sore tadi, Jum’at (15/8) berlangsung meriah. Selain event ini untuk memperingati hari jadi Kabupaten Bantul, juga sebagai bukti eksistensi kendaraan tradisional yaitu Gerobak Sapi yang tengah dihidupkan kembali di lingkup DIY.

Eksistensi gerobak sapi ini dibuktikan dengan keikutsertaan paguyuban gerobak sapi yang ada di Bantul untuk mengikuti pembukaan Bantul Expo 2014. Mengambil start di lapangan Trirenggo dan finis di Pasar Seni Gabusan (PSG) sejumlah gerobak sapi membawa Klonthong sapi terbesar serta mengangkut 30 peserta finalis miss Bantul Expo 2014.

Isdiyono, ketua paguyuban sapi mengatakan bangga dapat meramaikan gelaran Bantul Expo, dirinya juga berharap pemerintah kabupaten maupun propinsi dapat mengadakan event-event yang membuat gerobak sapi tetap lestari keberadaannya, diakuinya belakangan ini para pemilik gerobak sapi mulai ada gairah untuk mempertahankan gerobak sapinya.

“Merasa senang sekaligus bangga dapat berpartisipasi dalam event Bantul Expo ini. Harapan kedepan daya adalah meminta pemerintah baik di tingkat kabupaten dan propinsi dapat mengadakan event-event yang medayagunakan kami sebagai pemilik gerobak sapi, karena jujur para pemilik gerobak sapi yang dulunya gerobaknya di simpan dan jarang dipakai, kini kembali di pergunakan dan bahkan dipercantik kembali” terangnya.

Selain arak-arakan gerobak sapi dalam pembukaan Bantul Expo 2014 ini juga berhasil memecahkan rekor MURI berupa klontong sapi (lonceng yang ada di leher sapi .red) yang dibuat oleh warga Gunung Sempu, Kasihan, Bantul bernama Suadmaji. Klontong raksasa yang berukuran 1 x 1 meter dan dengan berat sekitar 100 kilogram ini berhasil memecahkan rekor MURI sebagai klontong sapi terbesar di Indonesia.

Suadmaji, berfoto bersama istri dan memegang rekor MURI dengan berlatar belanag Klonthong raksasa

Suadmaji, berfoto bersama istri dan memegang rekor MURI dengan berlatar belanag Klonthong raksasa

Suadmaji, pembuat Klontong sapi raksasa yang berhasi memecahkan rekor MURI mengatakan dirinya membutuhkan waktu sekitar 2 bulan dan dibuat dari bahan kuningan. Dirinya sengaja membuat klonthong sapi untuk melestarikan benda budaya berupa klonthong yang sekarang sudah jarang ditemui baik dipasar maupun terpasang pada sapi itu sendiri.

“klonthong ini dibuat membutuhkan waktu sekitar 2 bulanan dengan bahan baku menggunakan kuningan. Saya sengaja membuat klonthong raksasa ini untuk ikut melestarikan budaya, klonthong sapi merupakan benda budaya karena keberadaannya sangat lekat dengan sapi, namun sekarang ini klonthong sudah jarang ditemui baik yang menjualnya di pasar atau sapi yang memakai klonthong ini” akunya.

Dalam gelaran Bantul Expo akan ditampilan sekitar 225 kapling stand pamer dan diisi oleh sekitar 130 peserta yang berasal dari instansi pemerintah, kecamatan, desa, kesenian dan kerajinan serta selama Bantul Expo ini akan ditampilkan sebanyak 88 grup kesenian yang akan tampil di panggung hiburan.

(Foto dan artikel : Hanung H)