Malam Tirakatan Kampung Sagan

TARI KLANA RAJA pada malam tirakatan kampung sagan

TARI KLANA RAJA pada malam tirakatan kampung sagan

Lampu lampion dengan kertas berwarna merah putih menghiasi jalan masuk gang kampung Sagan. Kerlap-kerlip lampu dan umbul-umbul masih menjadi tema perayaan Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 69 tahun. Sebuah panggung kesenian yang digelar dengan konsep lesehan tampak meriah dengan berbagai macam kesenian kampung dengan semangat kerakyatan.

Sabtu 16 Agustus 2014 mulai jam 19.30 wib sebuah perhelatan Malam Tirakatan digelar di Kampung Sagan RW 10 Yogyakarta. Panggung kesenian dengan pertunjukan yang di inisiasi oleh warga kampung tersebut tampat begitu meriah. Segala potensi kesenian yang dimiliki kampung tersebut dipentaskan sebagai ajang kreasi dan unjuk keberanian tampil meski hanya ditonton oleh warganya sendiri.

Semua pengisi acara kesenian malam itu cukup banyak dan meriah. Mulai dari tampilan kesenian anak-anak sampai dengan orang dewasa, misalnya Macapatan, Karawitan Ibu-ibu, PAUD, Tari Nawung Sekar, Tari Klana Raja, Tari Kencana Wingko, Tari Nawung Sekar, Tari Kuda-kuda, Joget Bang Jali, Koor Ibu-ibu dan ditutup dengan Ketoprak Ongkek dengan judul “Pilihan Lurah Mangunrejan”.

Acara berlangsung dengan sangat meriah namun sederhana. Ditengah acara sempat dibagikan makanan berupa mie goreng berbahan dasar mie instan dan tempe mendoan. Makanan tersebut dikumpulkan oleh tiap kepala keluarga dari masing-masing RT lalu dibagikan acak agar semua RT merasakan masakan makanan yang berbeda-beda.

Tujuan dari ini untuk mengajak warga saling mengingatkan kebersamaan antar warga, siapa tahu dengan memakan mie goreng kelak piringnya boleh dikembalikan dalam keadaan bersih syukur dikembalikan dengan diisi ulang dengan makanan sebagai tanda ucapan terima kasih. Kebersamaan yang menjadi tema Malam Tirakatan dimaknai dengan hal sederhana melalui peristiwa bertukar makanan.

[Foto dan artikel : Elyandra Widharta]