Dialektika Salaman Idul Fitri Kampung Sagan

Tradisi jabat tangan yang sudah ada sejak puluhan tahun

Tradisi jabat tangan yang sudah ada sejak puluhan tahun

Sagan dikenal kampung yang cukup urban, mayoritas penduduknya ialah pendatang migrasi dari desa ke kota. Disela-sela keragaman itulah pendudukannya juga menganut berbagai agama mulai dari Islam, Kristen, Katolik, dan Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa. Pada saat Idul Fitri tiba kampung ini mempunyai kebiasaan atau tradisi yang unik. Seluruh warga masyarakat kampung berkumpul di suatu tempat lalu berjabat tangan atau salaman untuk saling memaafkan memutar sesuai dengan urutan.

Aktivitas ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun. Setiap hari raya Idul Fitri, seluruh warga dari seluruh agama apapun merayakan dengan saling memafkan dikampung ini. Seperti yang terjadi kemarin Senin 27 Juli 2014 jam 08.00 di Pendapa Gadjah Kembar. Salah satu tempat berbentuk pendapa yang dari sejarah berdirinya sering digunakan untuk kegiatan agama dan kebudayaan.

Masyarakat yang datang dengan antusias ke acara "salaman"

Warga yang datang dengan antusias ke acara “salaman”

Sehabis sholat Idul Fitri selesai, semua warga RW 10 Sagan Terban Yogyakarta berkumpul. Semua berbaris urut mulai dari yang paling sepuh sampai dengan yang muda, lalu “salaman” berputar sesuai dengan urutan sampai semua merasakan jabat tangan bermaaf-maafan secara merata. Tidak ada lagi rasa dendam semua melebur menjadi satu kata yaitu maaf.

Dialektika salaman ini biarlah menjadi tradisi dan kebiasaan yang berjalan terus menerus. Bahwa memaafkan merupakan perayaan yang perlu diketahui lalu dirasakan oleh generasi berikutnya. Warisan sederhana bernilai kaya ini kelak yang akan menjadi kekuatan besar membawa dampak nilai sejarah dan kebudayaan untuk anak cucu kita. Kampung kita makin kaya nilai pluralisme, karena kampung kita adalah kita belajar menjadi kampung Pancasila. Nilai ini semoga bisa diciptakan oleh masyarakat kampung, desa, dan kota dimanapun.

[Artikel & Foto : Elyandra Widharta]