Cerita Lain Dari Taman Bungkul

taman bungkul

taman bungkul

Taman Bungkul, taman yang begitu populer bagi masyarakat kota Surabaya dan begitu terkenalnya hingga setiap orang menghubungkan taman Bungkul dengan Walikota Surabaya Tri Risma Harini. Memang terkenalnya taman ini berkat kerja keras Walikota Surabaya dalam menata lingkungan di Kota Surabaya agar terkesan asri, sejuk dan hijau.

Namun tidak banyak orang yang tahu tentang asal usul nama taman yang begitu terkenal hingga dinobatkan sebagai salah satu ikon kota Surabaya. Nyatanya asal nama Bungkul berasal dari nama Ki Ageng Bungkul, beliau adalah seroang kyai yang ngemong (merawat .red) Sunan Ampel waktu kecil. Selain itu juga Ki Ageng Bungkul adalah orang yang pandai membuat senjata baik keris, tombak maupun peralatan perang lainnya.

gerbang menuju pusara ki ageng bungkul

gerbang menuju pusara ki ageng bungkul

Ki Ageng Bungkul hidup pada abad ke-15 atau sekitar jaman Majapahit berkuasa kala itu di Jawa Timur, beliau meurpakan sosok penyebar agama Islam dan merupaka tokoh lokal daerah tersebut. Pertemuannya dengan Raden Ramhat atau disebut Sunan Ampel yang mengantarkan Ki Ageng Bungkul disebut sebagai gurunya Sunan Ampel sekaligus yang merawat beliau sebelum Sunan Ampel menjadi Wali Sanga.

Letak makamnya sebenarnya berada di sisi timur taman Bungkul ini danpeziarah umumnya setelah berkunjung kepusara beliau akan mengambil air uci yang dipercaya membawa keberkahan. Sekarang tempat ziarah Ki Ageng Bungkul seolah kalah dengan hingar bingar taman yang berada di sebelah baratnya. Sayang, waktu kami ke tempat ziarah ini, kami tidak diperkenankan untuk memotret lebih dalam termasuk sampai ke pusara Ki Ageng Bungkul, kami hanya mendapatkan masjid yang berdiri disekitar makam tersebut karena peraturan tidak boleh mengambil gambar pada malam hari.

Sebenarnya ada yang menggelitik kami untuk bertanya kenapa tempat ziarah Ki Ageng Bungkul bersanding dengan taman yang gemerlap cahaya, muda mudi yang asik bercengkrama hingga hingar bingar keriuhan ada di taman ini. Seolah pamor tempat ziarah Ki Ageng Bungkul kalah oleh eksistensi taman tersebut hingga tidak banyak orang yang tahu bahwa sebenarnya taman bungkul merupakan tempat Ziarah serta refleksi diri.

masjid/langgar di dalam kompleks makam

masjid/langgar di dalam kompleks makam

Kami mencoba bertanya kepada pengunjung yang asli orang Surabaya dan akhirnya mendapatkan jawabannya bahwa dahulu taman ini berupa hutan atau semacam kebon yang mengelilingi makam Ki Ageng Bungkul. Ironisnya, hutan ini sering disalah gunakan untuk perbuatan yang tidak terpuji, oleh karena itu Walikota Surabaya mengubah hutan tadi dengan menata, memasangi penerangan taman serta menanami bunga dan memisahkan antara tempat ziarah Ki Ageng Bungkul dengan taman tersebut agar para peziarah tidak terganggu.

Dirinya juga berujar memang sebenarnya terjadi sedikit pergeseran makna tentang tempat ziarah tersebut, namun bila kita telisik lebih dalam dari pada tempat sering digunakan untuk hal yang kurang terpuji, lebih baik memisahkan keduanya agar tidak terjadi perspektif yang buruk.

(Foto dan artikel : Hanung H)