Memetik Hikmah Kesabaran Dari Warga Selopamioro

seorang warga tengah mengecek selang air yang ada di gorong-gorong sebuah sungai kering

seorang warga tengah mengecek selang air yang ada di gorong-gorong sebuah sungai kering

Selopamioro, Imogiri, Kabupaten Bantul, mungkin daerah ini familiar dengan goa Cereme, wisata kebun buah Mangunan serta bentangan alam berupa perbukitan karst dengan landscape dataran rendah yang luas di sisi baratnya. Memang begitu elok dipandang saat kita berada di daerah ini, namun siapa sangaka di sebuah desa bernama Kali Dadap, Selopamioro warganya masih sering kekurangan air jika memasuki musim kemarau.

Kami mencoba untuk menelusuri daerah tersebut, letaknya tidak jauh dari kawasan wisata goa Cereme, mungkin satu jalur dengan kawasan wisata itu. Sesampainya di desa tersebut kami melihat sesuatu yang benar-benar luar biasa. Saat kami datang sekelompok warga sudah berkerumun disebuah bangunan berukuran sekitra 4 x 5 meter dengan tinggi sekitra 2 meter yang belakangan kami ketahui sebagai mata air, bangunan tersebut berupa kubus yang terbuat dari semen, disekitar bagunan itu terdapat banyak sekali selang dengan berbagai warna yang tergantung di bangunan itu. Kami mencoba membaur dengan warga yang sudah berkumpul sedari tadi. Sambutan mereka sangat ramah, bahkan terlampau ramah jika kami selanjutnya mengerti bahwa mereka sedang menunggu air untuk menopang kehidupan mereka sehari-hari.

Sempat tidak percaya dengan apa yang telah kami lihat dan kami dengar tentang daerah tersebut yang mengalami kekurangan air, kerena secara rasional daerah tersebut tidak jauh dari kota kec. Imogiri dan juga berada disekitar objek wisata goa Cereme yang secara tidak langsung daerah tersebut dapat dikatakan bukan daerah terpencil atau terasing dengan akses luar. Namun, begitulah yang terjadi dengan bukti warga yang menunggu dan berkumpul setiap lima jam sekali untuk kegiatan “nyedot selang”.

seorang warga tunanetra yang dipercaya sebagai pengatur kapan warga diperbolehkan mengambil air

seorang warga tunanetra yang dipercaya sebagai pengatur kapan warga diperbolehkan mengambil air

Warga disini sudah akrab dengan kekeringan yang melanda daerahnya setiap datang musim kemarau, walaupun di daerah lain seperti Sleman masih sering turun hujan. Kami berbincang dengan warga tentang kemungkinan-kemungkinan proyek pemerintah yang dapat disasar di daerah tersebut seperti PAM atau pembangunan saluran pipa dari mata air tersebut, namun warga masyarakat disitu sudah pernah di buatkan saluran PAM namun ternyata debit mata air tersebut tidak mencukupi.

Disinilah kami menemukan suatu adat kebudayaan yang unik di tengah keadaan yang sulit. Warga masyarakat desa Kali Dadap akhirnya menunjuk salah seorang warga untuk dijadikan sebagai pemangku atau pengatur kapan warga diperbolehkan untuk mengambil air dari mata air tersebut dengan cara disedot melalui selang. Kembali kami di berikan kejutan, bahwa pengatur air tersebut bukan dari orang yang terpandang melainkan seorang “Tunanetra”.

Sayang kami lupa menanyakan nama, karena saking asyiknya berbincang dengan beliau. Beliau sesosok laki-laki yang sudah berumur sekitar 60 tahun yang kesehariannya menjaga dan mengatur mata air yang ada di desa tersebut. Satu hal yang kami dapat dari perbincangan dengan bapak tersebut, yaitu kesabaran menghadapi keadaan yang sulit.

seorang warga tengah menyedot selang, kegiatan ini berlangsung setiap 5 jam sekali

seorang warga tengah menyedot selang, kegiatan ini berlangsung setiap 5 jam sekali

Tidak terlihat dari warga masyarakat mimik susah yang muncul yang terlihat hanya canda dan tawa bahkan terkadang ada gosip-gosip khas masyarakat disana. Tiba-tiba bapak tersebut menyela dengan mengatakan “beginilah kegiatan kami sehari-hari, kita harus berkumpul setiap 5 jam sekali untuk mengalirkan air ke masing-masing rumah mereka. Inilah keadaanya, jika kita mengeluh itu akan menambah kesulitan kami, kami harus sabar karena dengan itu kami dapat tertawa, selain itu juga tidak mungkin warga dapat berkumpul jika kita sudah terpenuhi kebutuhan berupa air” ungkapnya.

Dari ungkapan tersebut kami dapat memetik sebuah pelajaran tentang kesabaran menghadapi keadaan yang kadang menyulitkan. Karena walaupun dalam keadaan sesulit apapun ada hikmah dibaliknya, begitu juga seperti warga Kali Dadap di balik kesusahan mencari air, mereka dapat berkumpul, bercanda bahkan ada masalah yang selesai di tempat itu sembari mengunggu air. Suatu pelajaran dibalik keadaan yang bahkan menyulitkan.

(artikel dan foto : Hanung H)