Jalan-jalan Di Kete Kesu Toraja Bersama Rm. Ys. Witokaryono, Pr

Rumah adat tongkonan dan alang sura

Rumah adat tongkonan dan alang sura

Artikel berikut adalah salah satu artikel yang pernah ditulis oleh Rm. Ys. Witokaryono, Pr dalam salah satu rubrik kompasiana. Sebuah kisah perjalanan yang layak kembali diunggah sebagai salah satu artikel yang mengungkap kekayaan tradisi, adat serta budaya adiluhung. Berikut ulasannya untuk Anda :

Anda pernah ke Toraja? Jangan mengatakan pernah ke Toraja jika Anda belum mengunjungi Ke’te’ Kesu, yaitu sebuah kompleks rumah adat Toraja yang terletak di kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Rumah adat itu disebut Tongkonan. Anda bisa dibuat berdecak kagum ketika mengunjungi kompleks Ke’te’ Kesu tersebut. Hampir semua atap tongkonan, nama rumah adatnya, ditumbuhi aneka jenis tanaman dan lumut. Sebagai salah satu cagar budaya, Ke’te’ Kesu demikian tertata rapi

Tongkonan tidak pernah berdiri sendiri. Di depan tongkonan pasti terdapat bangunan lain yang berukuran lebih kecil. Bangunan tersebut disebut Alang Sura. Alang sura berfungsi sebagai tempat menyimpan padi atau biasa kita kenal sebagai lumbung padi.

Ketika berkunjung ke sana, perhatian saya justru terbawa pada sisi lain dari kompleks Ke’te’ Kesu ini. saya justru tertarik dengan kompleks pemakaman yang terletak di belakang bangungan tongkonan dan alang sura ini. Ada sebuah jalan berundak, sedikit turun, yang terdapat di sisi Timur kompleks. Jika kita menyusuri jalan ini, kita akan sampai pada sebuah bukit. Di bukit inilah terletak pemakaman yang telah berusia.

Begitu kita masuk ke kompleks pemakaman, kita akan disambut bangunan makam yang menyerupai tongkonan berukuran cukup besar. Bangunan ini terletak di sebelah kiri jalan. Di depan rumah kubur ini ditempatkan tau-tau atau patung orang yang dikuburkan di tempat itu. Betapa luar biasa karya seni ini sebab patung-patung itu dibuat menyerupai wujud aslinya. Melihat patung-patung itu seolah kita melihat orangnya langsung. Sayangnya, tangan-tangan jahil sering berulah di tempat ini. patung-patung itu sering menjadi sasaran pencurian karena harganya yang bikin ngiler. Untuk mencegah pencurian itu, beberapa makan ditutup dengan jeruji besi.

Pintu besi untuk menjaga agar tidak ada tangan-tangan jahi yang merusak

Pintu besi untuk menjaga agar tidak ada tangan-tangan jahil yang merusak

Dari makam pertama ini, kita bisa menyusuri jalan berundak dengan tatanan bebatuan yang apik. Jalan yang sedikit naik ini persis berada di tebing bukit. Bagian kanan jalan terdapat besi pengaman sehingga para pengunjung tidak perlu takut masuk jurang. Sementara di sisi kiri, terdapat puluhan peti mati, baik yang dibiarkan teronggok di atas tanah atau pun peti mati yang tergantung di tebing bukit.

Tidak perlu takut, meski aroma mistis terasa demikian kuat, di kompleks pemakaman ini kita bisa menjumpai tulang belulang manusia yang berserak. Tulang belulang itu ada yang telah berumur ratusan tahun. Ada yang dibiarkan berserak begitu saja. Ada yang tertata rapi. Peti yang digunakan untuk menyimpan jenasah pun ada yang telah hancur. Ada juga yang masih utuh. Peti-peti mati tersebut memiliki beberapa bentuk. Ada yang menyerupai perahu. Ada yang berupa peti mati biasa. Ada yang menyerupai bentuk babi.

Jika Anda ingin menikmati sensasi yang lebih dasyat, Anda bisa memasuki gua atau lorong yang ada di ujung kompleks. Ada dua buah lorong yang dimasuki. Tentu Anda harus membawa alat penerangan yang cukup. Jika tidak berani sendirian, Anda bisa minta bantuan pemandu yang ada di lokasi tersebut. Saya sendiri tidak berani masuk ke lorong tersebut. Entahlah. Suasana mistis yang ada di tempat itu seolah memberi penanda kepada saya untuk tidak masuk ke dalamnya. Bau kemenyam yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah digunakan dalam tradisi Toraja tiba-tiba menusuk hidung saya. Saya pun hanya bisa terdiam dan tidak memberi tahu rombongan yang lain. Mungkin hanya perasaan saya saja. Biarlah saya saja yang merasakan dan mengalaminya.

Tumpukan tulang belulang yang terdapat di makam

Tumpukan tulang belulang yang terdapat di makam

Ada satu keunikan yang terlihat di kompleks pemakaman tersebut. Di beberapa tempat terlihat adanya sesajian atau persembahan dari keluarga untuk mereka yang telah meninggal. Sesajian tersebut sungguh berbeda dengan sesajian yang ada di daerah lain. Sesajian tersebut berupa barang-barang yang semasa hidupnya disukai oleh yang meninggal itu. Ada sesajian yang berupa rokok, buku, dll. Selain sesajian berupa barang disukai, masih ada lagi sesajian berupa barang kebutuhan. Ada yang memberikan sesajian berupa minuman, kipas angin, dan aneka barang yang dibutuhkan layaknya orang hidup.

Persembahan atau sesajian ini berkaitan dengan konsep kematian bagi orang Toraja. Kematian diyakini bukan sebagai akhir kehidupan. Sesudah kematian ada kehidupan. Mereka yang telah mati itu diyakini memiliki kehidupan di sana. Karena itu, mereka pun membutuhkan kebutuhan-kebutuhan layaknya orang yang masih hidup di dunia. Bagaimana orang Toraja memahami kematian.

Inilah salah satu bentuk kearifan lokal yang diwariskan oleh nenek moyang. Semestinya kearifan lokal ini membawa manusia-manusia di jaman ini semakin menjaga harmoni dengan alam dan sesama. Sayangnya, harmoni itu sering dirusak oleh tangan-tangan jahil yang ingin mengeruk keuntungan untuk dirinya sendiri. Padahal, warisan budaya itu semestinya dijaga dan akan menjadi kekayaan yang tak akan lekang dimakan jaman.

(Foto dan Artikel : Rm. Ys. Witokaryono, Pr)