Benthik : Permainan Tradisional (3)

ilustrasi permainan tradisional benthik

illustrasi permainan tradisional benthik

Masih ingatkah kita dengan permainan tradisional yang satu ini? Berbahan dasar 2 batang kayu dengan panjang berbeda. Panjang kayu yang pertama kurang lebih 30-40cm, untuk yang kedua kira-kira 10-15cm. Bahan yang bisa didapatkan dengan mudah lantaran bahkan dahan ranting yang kering pun bisa sebagai bahan untuk permainan tradisional ini.

Pada masa lalu permainan yang dikenal dengan istilah patil lele, gatrik atau benthik ini banyak sekali dimainkan anak-anak saat istirahat sekolah atau setelah pulang sekolah. Sangat populer di desa-desa di yogyakarta dan jawa tengah pada umumnya karena memang permainan ini selain seru dengan dimainkan oleh beberapa orang yang terbagi menjadi dua kelompok juga sangat murah.

Bagi sahabat teras yang belum pernah tahu permainan ini,berikut adalah ulasan bagaimana tata cara permainan ini dilakukan.

Tahap Pertama :

Sediakan dua batang kayu sesuai kesukaan kita dengan panjang masing-masing kurang lebih 30-40cm dan 10-15cm. Tentu sesuai dengan kesepakatan.

Tahap kedua :

Siapkan dua kelompok dengan undi atau hompimpa untuk menentukan siapa yang berjaga dan siapa yang akan bermain dengan mengungkit kayu kecil untuk melemparnya sejauh mungkin.

Tahap ketiga (bermain) :

Setelah siap mulailah batang kayu yang pendek ini diletakkan pada lubang yang dibuat kemudian dilentingkan sejauh mungkin. Tugas penjaga (musuh) adalah menangkap kayu yang dilontarkan untuk membuat kelompok si pengungkit kalah. Namun apabila tidak bisa ditangkap maka sang pengungkit mendapat kesempatan melakukan “thik-thir” yaitu melakukan lemparan setinggi perut (keinginan) dan melakukan pukulan dari pantulan kayu kecil dengan kayu besar. Banyaknya pantulan yang dihasilkan ini mendapatkan perkalian nilai sesuai kesepakatan.

Bila berhasil maka akan dilakukan penghitungan jarak dari lubang ke kayu pendek menggunakan kayu pengungkit namun bila tidak bisa melakukan “thik-thir” (kayu kecil jatuh) maka ini pun di anggap gugur. Demikian seterusnya sampai berganti-ganti pemain.

Saat masing-masing orang dalam kelompok telah terwakili maka giliran sang penjaga melempar kayu kecil untuk dipukul sejauh mungkin kemudian menhitung jumlah sesuai jarak menggunakan pengungkit yang panjang. Dan selisih angka inilah yang dijadikan sebagai tolok ukur menang dan kalah.

Sebuah permainan tradisional yang memiliki banyak nilai karena para pemain akan diajarkan untuk sportif, bekerja secara kelompok, berlatih jujur serta kerja keras. Masih banyak lagi nilai-nilai sederhana namun sungguh terasa dari permainan ini. (tw)