Tinggal Seni Budaya Pemersatu Keberagaman

seni

Kemajemukan masyarakat indonesia saat ini tampaknya telah menjurus pada sepenuhnya pada kata “perbedaan” yang menghasilkan perpecahan. Keaneka ragaman budaya, adat istiadat, agama, dan lain sebagainya seakan telah terkotak-kotak dalam pemahaman yang “egois”. Kebhinekaan seakan tak lagi mejadi nilai yang pantas untuk lagi dipertahankan sedang sejatinya kebhinekaan yang ika adalah kekayaan dasar bangsa yang hampir dan bahkan mungkin tak dimiliki oleh bangsa lain.

Sekarang ini banyak yang hidup dalam kolong idealisme masing-masing baik secara pribadi atau kelompok. Idealisme-idealisme yang tak mampu dibahasakan dengan serasi lagi oleh para elit politik. Berawal dari adanya janji-janji yang indah dan muluk saat sebelum menjadi “wakil rakyat”. Janji yang pada awal dilontarkan sebagai media meminta untuk di pilih. Janji bersedia untuk sepenuhnya untuk menjadi perpanjangan tangan aspirasi rakyat, yang notabene saat ini banyak berakhir di kata “pengingkaran” bahkan tak jarang justru muncul pribadi-pribadi terpilih yang memanfaatkan keterpilihannya sebagai wakil rakyat untuk mencari keuntungan-keuntungan pribadi.

Kejadian-kejadian di atas yang kiranya kemudian memunculkan rasa tak puas, kecewa, marah dan sebagainya yang memicu rasa tak percaya lagi kepada wakil yang dituju, lantas munculah kelompok-kelompok yang mencoba menjadi jembatan dalam bentuk lain. Munculah Ormas, Aliansi, Front dan lain sebagainya yang sudah pasti dengan idealisme masing-masing yang tak jarang berseberangan.

Kita lihat sekarang ini kebebasan berpendapat juga menjadikan masyarakat bebas berkata apa saja, termasuk saya sekalipun. Di banyak media bagaimana terlihat bagaimana kata-kata saling hujat, saling memojokkan antar pribadi dan golongan bahkan agama, ini ironis.

Olah raga yang dulu dianggap sebagai alat pemersatu bahkan muncul perpecahan di dalamnya karena di sana pasti ada wujud pertentangan. Maka menurutku tinggal satu yang tersisa sebagai alat pemersatu bangsa ini yakni keindahan, kekaguman, rasa merasa dan itu adalah “seni”. Seni ini bersifat subyektif namun di sana ada sisi keindahan dari berbagai sudut yang bisa ditemukan oleh masing-masing pribadi. Orang bisa berkesenian melalui apa saja seperti fotografi, pertunjukan, lukisan. Kita bisa juga temukan dalam kekayaan kebudayaan yang di miliki setiap desa, kota, provinsi, sampai bangsa ini. Maka tak jarang kekayaan budaya yang mengandung seni ini diklaim menjadi milik oleh bangsa lain.

Dalam seni yang ada hanya menonjolkan keindahan, ketakjuban akan sebuah obyek. Kita lihat orang dayak dengan tatonya yang terkenal, di jawa dengan batiknya, di papua dengan pakaian khasnya, atau tari srimpi, tari golek, tari jaipong, dan banyak lagi. Yang ada indah bukan?

Seni selalu indah apapun wahana membahasakannya untuk dinikmati alur di dalamnya dengan mata takjub, rasa merasa yang peka, keharmonian warna dan musik, keharmonisan gerak dan laku yang tertata indah dan indah saja untuk dikagumi. Seni itu subyektif tetapi selalu ingin indah pada akhirnya. (chipiant antok)