Misteri di Balik Indahnya Telaga Biru Towuti

Tampak dari gerbang pertama

Tampak dari gerbang pertama

Berburu tempat wisata baru selalu menarik perhatian saya, dan dengan berbekalkan cerita dari mulut ke mulut mengenai sebuah telaga cantik di daerah Towuti – Luwu Timur, saya pun segera meluncur ke daerah ini. Konon kabarnya, telaga ini dijaga ketat oleh security dan orang dilarang memancing ataupun berenang di telaga ini, karena kabarnya di dalam telaga ini terkenal dengan adanya buaya yang mungkin membahayakan pengunjung.

Ditemani oleh penduduk setempat dan seorang teman yang saya bawa dari Soroako, pagi itu saya meluncur ke Wawondula, tepatnya di sebuah tempat yang bernama Loika. Jarak tempuh perjalanan kami dari Soroako ke Loika sekitar 30 menit dan saat kami meninggalkan Soroako cuaca begitu tampak cerah.

Selanjutnya, Untuk mencapai lokasi, kami harus memasuki perkampungan yang dibilang jarang penduduk dengan kondisi badan jalan berlubang dan tergenang air di beberapa tempat. Serta semak, rumput tinggi dan hutan yang direboisasi mengiringi perjalanan kami menuju ke lokasi.

Sekitar 15 menit dari jalan utama Wawondula tibalah kami di lokasi yang menjadi tempat perburuan saya hari ini, tetapi cuaca tiba-tiba menjadi mendung dan sedikit berkabut. Walaupun cuaca kurang mendukung dalam pengambilan gambar, tetapi saya tidak mengurungkan niat saya untuk tetap memasuki kawasan yang tertutup tersebut.

Tampak dari gerbang samping

Tampak dari gerbang samping

Saat kami tiba di lokasi, sebuah pagar yang terbuat dari kayu dalam kondisi tertutup dan seorang security mendekati kami. Segera saya sampaikan keinginan saya untuk berkunjung dan mengambil gambar di lokasi tersebut. Bapak Ruslan, nama security tersebut memperingatkan kami bahwa daerah tersebut terlarang, tetapi kami tetap diijinkan untuk mengambil gambar tetapi dengan catatan tidak boleh terlalu dekat dengan air dan apabila terjadi sesuatu yang sekiranya membahayakan, itu merupakan tanggung jawab kami sepenuhnya. Saya melihat wajah kedua teman saya tampak tegang mendengar peringatan dari Bapak Ruslan tersebut, tetapi saya tetap nekad untuk memasuki kawasan ini.

Setelah pagar terbuka dan kami masuk, kami disambut pemandangan yang luar biasa indahnya. Sebuah telaga yang cukup luas dengan kedalaman sekitar 150 m dan memiliki latar pegunungan tinggi yang menjulang memukau mata kami. Tambahan pula, sebuah rumah cantik di atas bukit mengingatkan saya pada dongeng anak-anak yang sering saya baca sewaktu saya masih kanak-kanak. Saya semakin penasaran untuk semakin lebih dekat dengan telaga yang memiliki nama Telaga Biru ini. Menurut Bapak Ruslan yang merupakan Bugis asli, telaga ini disebut dengan Telaga Biru karena airnya yang sering terlihat berwarna biru walaupun saat kami datang, telaga itu terlihat hijau bagi saya.

Dapat saya lihat dengan jelas, kedua teman saya tampak sedikit ragu saat menuruni tangga untuk lebih dekat dengan telaga tersebut, sehingga saya biarkan mereka berdiri di dekat pintu gerbang yang membatasi dataran dan telaga itu. Kedua teman saya semakin tercekam saat mereka mendengar suara monyet-monyet besar dari hutan kecil di seberang telaga. Apalagi saat kami mendengar kecipak air di telaga yang menimbulkan gelombang kecil di bagian seberang danau. Kami menduga bahwa itu adalah buaya yang menghuni telaga itu, tetapi setelah lama kami menunggu, tidak terlihat tanda-tanda buaya tersebut akan naik ke permukaan air. Kami melihat air telaga kembali tenang.

Bpk Ruslan, Penjaga Telaga Biru

Bpk Ruslan, Penjaga Telaga Biru

Setelah mengutip beberapa gambar dan tidak terlihat akan munculnya buaya itu, saya naik kembali ke pos security dan melakukan wawancara dengan petugas yang saat itu sedang menjaga. Rasa penasaran saya mengarahkan pada pertanyaan bagaimana asal muasal telaga ini, apakah merupakan telaga buatan atau alami? Menurut informasi yang saya dapatkan, ternyata telaga ini adalah telaga buatan yang konon kabarnya, pemilik telaga ini sengaja membuat telaga ini untuk menempatkan buaya yang merupakan anaknya. Wooowww……!

Lebih lanjut, Bapak Ruslan mengungkapkan bahwa pemilik telaga ini memiliki dua anak kembar, tetapi kembar ini bukan kembar biasa. Satu terlahir sebagai manusia dan satu terlahir sebagai buaya. Pemilik telaga yang enggan untuk disebutkan namanya ini, saat ini berdomisili di Soroako dan kadang berkunjung untuk memberi makan buaya tersebut dengan telur. Buaya yang saat ini berada di dalam telaga ini baru berumur 1 tahun dan tentu saja untuk ukuran buaya, umur 1 tahun masih terbilang berukuran kecil. Lebih lanjut, Bapak Ruslan tidak merasa takut saat diminta untuk menjaga telaga ini, karena Bapak Ruslan ini mempercayai bahwa buaya itu adalah manusia.

Percaya atau tidak, misteri kembar buaya itu masih tetap akan tersimpan di Telaga Biru. Oleh karena itu, telaga ini diberi pengamanan khusus sehingga tidak sembarangan orang dapat memasuki kawasan tersebut. Dan saya beruntung dapat memasuki kawasan telaga ini walaupun saya harus menyebutkan identitas sebagai salah satu wartawan dari Yogyakarta. (fitri N)