Memaknai Nyadran Agung Di Makam Sewu Pandak

penaburan bunga di makam Kyai Bodho

penaburan bunga di makam Kyai Bodho

Sadranan atau Nyadran sesungguhnya adalah bentuk ritual yang di jalankan oleh masyarakat Jawa menjelang Bulan Ramadhan (Poso) atau pada saat akhir bulan Ruwah di dalam penanggalan kalender Jawa. Prosesi ini adalah berkunjung ke makam sanak keluarga yang sudah meninggal kemudian melakukan bersih-bersih pusara dan tabur bunga. Ini dari prosesi tesebut tidak lain adalah mengirim do’a bagi mereka yang sudah meninggal.

Serupa dengan prosesi Nyadran yang dilakukan pada umumnya, ini yang terjadi pula pada prosesi Nyadran Agung di Makam Sewu/ Asrewu yang berlokasi di kel. Wijirejo, kec. Pandak, kab. Bantul, Yogyakarta pada Senin Pon (23/6) lalu. Tradisi yang sudah dilakukan setiap tahunnya oleh penduduk Wijirejo serta keturunan baik Panembahan Bodho, maupun orang yang dimakamkan di makam ini berkumpul untuk melakukan prosesi nyadran masal.

Menengok sejarah tentang asal usul Panembahan Bodho yang juga merupakan salah satu murid dari Sunan Kalijaga, adalah putra dari Raden Kusein (Husein) dan Raden Husein merupakan keturunan langsung dari Raden Damar dari Palembang dengan Dewi Dwarawati yang merupakan seorang putri pemberian dari Prabu Brawijaya V Seorang raja Majapahit. Panembahan Bodho juga erat kaitannya dengan Nyi Ageng Mangir serta Panembahan Senopati dalam sejarah Mataram Islam. Nama Bodho sendiri berasal dari cerita yang konon dahulu saat dirinya masih bernama Raden Trenggana saat akan menghadapi serangan Portugis. Dirinya mengiria serangan ini berasala dari laut selatan karena mendengar ombak yang dikira meriam kapal, selain itu juga seusai kejadian itu dirinya diminta bertapa oleh Sunan Kalijaga, namun dirinya juga melakukan kesalahan dengan membawa banyak sekali makanan. Panembahan Bodho meninggal pada hari Senin Pon sekitar tahun 1600-an dan dimakamkan dikompleks makam Sewu ini.

Prosesi kenduri masal setelah kirab gunungan

Prosesi kenduri masal setelah kirab gunungan

Oleh karenanya masyarakat sekitar makam menggelar kirab Nyadran Agung ini pada hari yang sama dimana beliau meninggal. Dalam kirab Nyadran Agung sendiri dimulai dari mengarak gunungan yang berisi berbagai macam hasil bumi yang dibuat dalam bentuk kerucut maupun diletakkan dalam Jodhang atau wadah nampan yang besar. Kirab sendiri dimulai dari Kel. Wijirejo menuju makam Sewu yang jaraknya kurang lebih 6 km. Sesampainya dimakam, gunungan ini dikumpulkan di tengah pendopo kemudian masyarakat berdo’a dan di akhir acara masyarakat akan menerima kenduri serta dapat berebut hasil bumi dari gunungan. Selain itu para sesepuh dan pejabat pemerintahan ziarah kubur ke makam Penembahan Bodho beserta istrinya.

Ketua Panitia Nyadran Agung, Haryadi, menjelaskan bahwa makna sesungguhnya dari prosesi ini adalah berkumpulnya sanak famili dari orang yang di makamkan di sana, sehingga akan menyambung tali silahturahmi kembali selain itu juga nantinya akan mengirimkam do’a bagi yang sudah meninggal, ini adalah prosesi jawa yang sangat adiluhung dimana mereka saling meminta ma’af berkumpul dan mendo’akan leluhurnya sebelum mereka masuk ke bulan suci Ramadhan, terangnya. (FG dan artikel : Hanung. H)

pembuatan nasi takir untuk kenduri

pembuatan nasi takir untuk kenduri