Cerpen : Sepotong Roti Di Nabura

Sepotong Roti Di Nabura

Hari sudah mulai siang. Gemericik air dan gelombang di Nabura, kolam renang itu seakan masih menghipnotis Aqil dan Nabil untuk terus berenang. Sesekali mereka memainkan tubuh mereka diatas ban yang mengapung. Cerah ceria dalam buai sang segar air kolam.

Tawa dan teriakan anak-anak lainya menambah suasana ramainya kolam itu. Shifa, sang ibu yang sedang duduk menunggu, melemparkan senyum memandangi kedua putranya. Nampaknya udara terasa panas membuat tenggorakan shifa menjadi kering hingga ia meneguk sebotol air mineral dan mengeluarkan beberapa potong roti yang dibawanya sebagai bekal dari rumah. Tak lupa kemudian ia sodorkan pada Aqil dan Nabil agar mereka makan sebagai Snack time di sela waktu berenang.

“Aqil, Nabil, makanlah dulu roti ini juga jangan lupa minum kalian”, panggil Shifa yang diikuti oleh mendekatnya kedua anaknya.

“Makasih Bunda,” jawab mereka.

Entah bagaimana pandangan Shifa tertuju pada seorang gadis yang berusia kurang lebih 9 tahun. Gadis itu salah satu anak yang berenang di tempat itu. Tangannya yang basah memegang sepotong roti.

Pemandangan haru, tiba-tiba saja tercipta. Saat sang gadis membagi sepotong roti menjadi tiga bagian dan diberikan pada kedua saudaranya. Ia memberikan potongan pertama pada adiknya yang paling kecil. Sungguh anak-anak yang luar biasa. Tak terlihat kekurangan disana. Tatapan polos dan senyum mereka adalah kebahagian yang sederhana…

Dengan menarik nafas panjang, Shifa mendekati ketiga gadis itu. Sakinah, zaenab dan zulfaa begitu panggilan akrab mereka.

“Maukah kalian menerima roti pemberianku?”, begitu shifa menawarkan 3 potong roti kepada gadis-gadis itu itu. Berharap mereka mau menerimanya.

Bener saja zaenab mengangguk dan mengambil roti dari tangan Shifa. Pikir shifa mereka akan langsung melahap roti yang ia bagikan, tetapi tidak. Gadis-gadis kecil itu saling pandang dgn penuh isyarat.

“Apa yang ada di benak mereka”kata shifa dalam hati.

Setitik air mata pun jatuh, ketika shifa kembali melihat ketiga gadis itu saling mencicipi bagian roti masing-masing. Karena rasa dari setiap potong roti itu berbeda,yahh…mereka tidak hanya berbagi sepotong roti tapi juga berbagi rasa.

Dengan mata yang masih berbinar-binar, shifa tersenyum dan beranjak setelah mereka saling berucap terima kasih. Luar biasa, sesungguhnya mereka semua masih anak-anak, namun terkadang kita juga bisa belajar dari mereka.

sepotong roti, hanyalah sepotong roti tapi rasa berbagi terhadap sesama adalah kasih yang semestinya. …..kulihat keindahan, berbagi itu menghidupkan hati seperti cahaya mentari yang tak pernah mengeluh memberi sinarnya. (oleh : Vilma)