Tradisi Kenduri Tenongan

Tenongan

Tradisi kenduri tenongan, adalah salah satu kekayaan warisan budaya lokal yang masih di “uri-uri” atau dilestarikan oleh masyarakat dusun kalibuko, Kulon progo. Tradisi merti desa atau yang biasa disebut juga sebagai acara bersih desa oleh masyarakat pada umumnya.

Acara ini sendiridi adakan kemarin siang (11/05/2014), acara yang ditandai dengan kenduri bersama masyarakat dua pedukuhan yakni kalibuko I dan II. Yang menarik dari acara ini adalah kenduri tenongan. Sebuah alat dari anyaman bambu yang berguna sebagai tempat makanan.

Masyarakat datang satu persatu ke tempat dukuh dan meletakkan  semua tenong yang mereka bawa pada gelaran tikar yang telah tersedia sebelumnya. Beberapa orang nampak membawa dengan cara memikulnya. Tentu karena alasan jarak yang saling berjauhan antar penduduknya serta beratnya barang yang dibawa.

Dalam tenong-tenong tersebut terdapat berbagai olahan masyarakat setempat. Setelah semua tenong ini terkumpul, lantas beberapa orang mengambil bahan-bahan seperti roti dan pisang untuk selanjutnya dijadikan sebagai bahan suguhan bagi para tamu yang hadir. Setelah penggabungan dari masing-masing tenong ini terkumpul dan tinggal bahan-bahan masakan seperti nasi berikut lauk pauknya yang tentu juga juga khas olahan desa ini lantas dilanjutkan dengan acara doa bersama yang dipimpin oleh seorang kaum.

tenong

Acara ini sendiri rutin diadakan dalam setiap tahunnya, hanya saja dalam peksanaannya dilakukan bergantian antara kedua dusun. Sajian wayang kulit menjadi tontonan tersendiri juga bagi masyarakat yang selalu dinanti-nanti. Inipun tak lepas dari kata menarik lantaran wayang digelar dari siang sampai malam dengan dua dalang yang berbeda, gunungan bahan-bahan hasil bumi, dan lainnya.

Menurut bapak dukuh Muryanto, acara ini rutin digelar dengan tujuan selain merekatkan persaudaraan antar masyarakat yang tentunya akan berbaur menjadi satu meski diwakili oleh laki-laki saja saat kenduri tenongan. Doa demi doa juga dipanjatkan sebagai ungkapan rasa syukur serta memohon kemurahan dari yang Maha Kuasa atas segala rejeki serta yang semoga terus berkelanjutan.

Sebuah warisan tradisi yang layak untuk dijaga kelastariannya, bukan hanya sebagai alat pemersatu antar masyarakat namun juga kandungan seni budaya yang dibawa didalam rangkai acara ini. (tw)