Pentas Kesenian Tradisional Puro Pakualaman Yogyakarta

kesenian 1

Bertempat di sewandanan, Alun-alun Puro Pakualaman, Yogyakarta kemarin sore (25/5/2014), dua kelompok kesenian yang datang dari Samigaluh, Kulon Progo serta Gunungkidul memeriahkan acara pentas seni Budaya Tradisional yang digelar oleh Beliau RM Donny S Megananda dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yogyakarta.

Lenggak-lenggom penari yang serempak mengikuti irama yang ditabuh tak urung membuat ratusan pasang mata seolah tanpa lelah meyaksikan pementasan kesenian tradisional yang disajikan untuk umum di minggu kedua serta ke empat dalam setiap bulannya ini secara gratis. Gelak tawa serta tepuk tangan meriah menjadi pemandangan yang mewarnai di sela-sela pertunjukkan saat beberapa pemain melakukan atraksi yang lucu atau berbahaya.

Jelas juga bagaimana bagaimana dalam acara ini pesan-pesan dibawa tentang bagaimana kayannya Nusantara akan karya seni lokal yang istimewa, yang layak untuk di “uri-uri”, diperkenalkan kepada khalayak umum baik dalam atau luar negeri, pun juga beberapa hal yang tidak boleh ditiru atau dilakukan di rumah karena atraksi berbahaya seperti makan beling atau atraksi api yang tentu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah terlatih.

Tampilnya dua kelompok Siwi Karti Budaya yang didominasi oleh para pemain muda serta kelompok Turonggo Putri Sekar Arum yang pada kesempatan kemarin membawa para penari pokok yang rata-rata ibu-ibu menjadi salah satu gambaran jelas bahwa regenerasi kesenian tradisonal memang masih berlangsung meski ini ada dalam dua kelompok berbeda. Hal senada tentang regenerasi ini juga diuraikan oleh wakil kelompok dari Turonggo Putri Sekar Arum yang menyatakan melatih juga anak-anak serta remaja.

RM Donny S Megananda dalam kesempatan kemarin juga nampak hadir mengabadikan moment-moment pertunjukkan ini. Di sela acara ini beliau juga mengatakan bahwa kesnian yang dipertunjukkan secara gratis ini adalah sebagai salah satu bukti bagaimana kekayaan Budaya Nusantara ini pantas dibanggakan. Beliau juga menyatakan bahwa untuk ke depannya acara ini akan rutin di gelar sebulan dua kali yakni pada minggu kedua dan keempat dan bila mungkin bisa menjadi tiga kali dalam satu bulan. Tak lupa beliau juga mengajak masyarakat untuk turut berapresiasi dengan mengajak masyarakat menyaksikan acara pentas kesenian tradisonal ini. (chipriant)