Mitos dan Peristiwa : Pring Larangan

sesajian

Bau kemenyan menyeruak sesaat setelah sang juru kunci menyulutnya sebagai salah satu piranti yang melengkapi bunga setaman yang saat itu ada dalam ritual doa pada sebuah tempat yang ada pada sekumpulan pokok-pokok bambu.

Adalah “Pring Ageng” atau bambu besar yang juga oleh masyarakat disebut sebagai “Pring larangan”, yang adalah sebuah kumpulan akar serta pohon bambu yang dipercaya oleh masyarakat kalibuko, kalirejo, kokap,  kulon progo dan sekitarnya sebagai sebuah peninggalan dari Kanjeng Sunan Kalijaga atau yang kita kenal sebagai salah satu bagian dari Wali songo yang tak terpisahkan.

Bambu-bambu ini dipercaya tumbuh dari tusuk sate yang kala itu digunakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Sebuah tempat yang lantas sampai saat ini dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Banyak cerita memang yang mengisahkan bahwa tak semua orang boleh begitu saja mengambil salah satu atau bagian dari rumpun bambu ini. Hal ini lantaran telah banyak bukti yang menyatakan ada saja kejadian yang tidak baik bila asal ambil begitu saja. Maka itu juga disebut sebagai “Pring larangan”.

Juru kunci dari tempat ini, yakni Bapak Bakir ini mengisahkan bahwa pada saat-saat tertentu memang selalu diadakan ritual guna menghormati tempat yang dikeramatkan ini. Pada Bulan tertentu seperti bulan-bulan nyadran, tempat ini akan banyak dikunjungi oleh orang-orang yang bahkan dari luar daerah untuk ngalap berkah dengan potongan bambu yang akan bermanfaat sekalipun hanya potongan kecil.

berdoa

Sebuah budaya yang sebenarnya menurut pengakuan banyak masyarakat bukanlah sebagai sebuah bentuk penyembahan berhala atau istilah lain. Mereka tetap berdoa kepada yang Maha kuasa, namun yang mereka lakukan ini adalah simbolisasi dari “ngudi-udi (menjaga) warisan budaya yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang. Sebuah budaya doa dengan memohon berkah dari para leluhur yang dipercaya ada pada tempat-tempat tertentu untuk keselamatan, kesehatan, kesuburan dan masih banyak lagi.

Dari segi sebuah logika, tentu lebih jelas bisa kita terima bahwa dengan adanya ritual ini tentu kemudian akan menjaga kelestarian tanaman yang ada yakni “Bambu Ageng” ini terlepas dari sisi mitos dan mistik. Bagi yang percaya tentu ada banyak manfaat juga seperti yang banyak diceritakan semisal sebagai sarana mengusir berhala, mengusir orang jahat, dan lain sebagainya. Lebih lanjut menurut juru kunci, pernah ada yang meminta pohon untuk mengusir keluarga dari lingkungan rumah dan tidak diberikan. Alasannya tentu karena hal ini tidak baik.

Sebuah warisan tradisi berupa ritual yang selayaknya kita jaga dan lestarikan, terlebih bagi kawula muda agar sikap hormat, rasa “handarbeni” atau memiliki dari sebuah peninggalan leluhur ini terus lestari. (chipriant – tw)