Luweng Leng Gunungkidul

luweng leng 1

Pernahkan Anda mendengar kata luweng? Sebutan luweng cukup terkenal di daerah perbukitan seribu, terutama di Gunung Kidul. Sebutan itu sekaligus menguak luka lama. Hampir sebagian besar masyarakat Gunung Kidul akan menceritakan luweng sebagai sebuah tempat yang berkaitan erat dengan gerakan komunis.

Kembali ke kata luweng. Sebutan ini hendak menunjuk pada gua vertikal dengan tingkat kedalaman yang berbeda-beda. Salah satu luweng yang cukup terkenal di Gunung Kidul adalah Luweng Jomblang. Apakah hanya itu saja? Tentu tidak. Ada banyak luweng yang tersebar di perbukitan karst Gunung Kidul. Salah satu nama luweng yang jarang disebut adalah Luweng Leng. Luweng Leng yang memiliki kedalaman sekitar 100 meter dengan diameter juga sekitar 100 meter itu seolah menjadi sumur raksasa. Luweng Leng terletak di tengah lahan luas di desa Candi, Giring. Leng adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa. Artinya adalah liang.

Tertarik akan keindahan luweng-luweng yang tersebar di daerah Gunung Kidul, kami pun meluncur ke Luweng Leng tersebut. Menyusuri jalanan tanah dengan tatanan batu karang menjadikan medan sedikit ekstrim. Namun perjuangan itu seolah sirna begitu kami sampai di tepian Luweng Leng. Sebuah lubang besar menganga. Rimbunan pepohonan tampak menghiasi bibir dan kedalamannya.

Segera kami turun dan menikmati pemandangan. Masing-masing dengan aktivitasnya sendiri-sendiri. Dan ketika hendak berkemas, barulah kami sadar ada satu teman yang tidak terlihat. Kami berpikir dia pergi ke tempat lain. Ternyata, dia ditemukan ketika mobil dibuka. Dengan telanjang dada serta keringat bercucuran, dia keluar dari dalam mobil. Untung saja, cadangan oksigen masih mencukupi. Kalau tidak?

Sembari menahan ketawa mengingat kejadian itu, kami pun segera berkemas. Rombongan terbagi mejadi dua kelompok. Kelompok pertama menyusuri tepian tebing sebelah barat supaya bisa turun ke bawah melalui jalur darat. Kelompok kedua mencari jalan untuk turun ke dasar dengan menggunakan tali. Saya kebagian jatah di kelompok pertama. Karena salah jalur, kami harus mengitari tebing untuk bisa turun ke bawah melalui jalan yang yang lebih landai. Meski lebih landai, sikap hati-hati dan waspada tetap dibutuhkan. Salah melangkah bisa fatal akibatnya. Ngesot pun harus dilakoni demi keamanan diri sendiri.

Sementara kelompok yang satunya berusaha mencari titik aman untuk bisa meluncur ke bawah dengan tali. Betapa tidak mudah menemukan titik aman sebab bagian mulut luweng dipenuhi dengan perdu dan tanaman berduri. Berkali-kali mereka harus memutar demi mendapatkan titik teraman. Lega rasanya ketika titik itu didapatkan. Aktivitas bergelayutan pun dimulai. Kami yang di bawah kebagian motret. Hehehehehe.

luweng leng 2

Sesampai di bawah, kami disambut oleh sungai yang mengering. Bebatuan berwarna putih menjadi demikian kontras dengan keadaan sekitar yang lebih hijau. Menyusuri kedalaman gua hawa lembab langsung terasa. Dalam cahaya remang-remang, terlihat stalaktit dan stalagmit tampak berwarna-warni di sisi kanan dan kiri gua. Pantulan sinar matahari yang masuk menambah eksotisme pemandangan dalam gua.

Semakin berjalan masuk, kami disambut dengan lubang besar menganga. Tumbuhan-tumbuhan besar pun tampak menghiasi dan semakin menambah keindahannya. Kami pun perlahan-lahan menyusuri bebatuan menuju ke titik terang itu. Sungguh luar biasa pemandangan yang tersaji. Luweng Leng seolah menjadi oase menyejukkan di tengah tandusnya perbukitan karst.

Ingin rasanya berlama-lama di tempat itu. Apa daya, cuaca tiba-tiba tidak bersahabat. Mendung menggayut diikuti dengan rintik-rintik gerimis. Kami pun segera berkemas. Meski keindahan itu kami tinggalkan, namun ingatan akan keindahan itu takkan terhapus dari memori. Butuh tangan-tangan ramah untuk membuat oase itu semakin berguna bagi para pencari tantangan. Tangan-tangan yang tidak merusak namun tangan-tangan yang bisa berharmoni dengan alam.

Siapa sangka, daerah perbukitan yang tandus itu mampu memberikan oase yang menyejukkan. Oase itu hanya bisa dilihat dan dirasakan oleh mereka yang memiliki hati. Di balik kegersangan itu tersembunyi surga di perut bumi Gunung Kidul.

(Karya foto & Artikel : Ys. Witokaryono, Pr – Kompasiana)