Gerabah Kasongan

pembuatan gerabah

Siapa tak kenal nama Kasongan? Kiranya nama kasongan tidak lagi asing di telinga kita. Mendengar kata Kasongan, ingatan kita segera terbawa pada sebuah kerajinan gerabah. Kerajinan gerabah memang menjadi andalan utama di desa wisata Kasongan yang terletak di pedukuhan Kajen, desa Bangunjiwo, kecamatan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

 Teramat mudah untuk menemukan desa wisata Kasongan. Melewati jalan Bantul, kita akan melihat sebuah gapura besar dengan rwarna merah khas tanah liat dan patung kuda di kanan kirinya. Gapura ini seolah-olah ingin menyambut para pelancong untuk ‘bertamu’ ke Desa Kasongan. Memasuki gapura itu kita akan dibawa pada sebuah pemandangan unik. Hampir semua penduduk Kasongan menjadi perajin gerabah, baik tradisional maupun modern.

Yang tampak dan bisa kita nikmati adalah aneka bentuk gerabah yang indah. Pernahkah terbayang bagaimana gerabah-gerabah itu dibuat? Sebuah kesempatan menarik ketika saya berkunjung ke sana. Kesempatan yang harus saya gunakan untuk mencoba merasakan bagaimana membuat sebuah gerabah.

Ternyata proses membuat gerabah tidaklah sederhana. Ada dua jenis pembuatan gerabah. Pertama, gerabah dibuat dengan cara dicetak menggunakan mal  atau cetakan yang telah ada. Kedua, gerabah dibuat langsung dengan tangan, tanpa menggunakan cetakan.

Saya pun mencoba cara kedua. Di atas tumpukan kayu berbentuk lingkaran yang bagian atasnya bisa diputar diletakkan adonan tanah liat. Bagian awal inilah yang akan menentukan pola gerabah yang ingin dibuat. Selanjutnya. Dengan kecekatan jari jemari, gumpalan tanah liat dibentuk sesuai dengan imaginasi pembuatnya. Betapa tidak mudah melakukan hal ini. Tangan kiri berfungsi menahan bentuk luar sembari memutar kayu. Sementara tangan kanan berfungsi membentuk pola. Semakin lama semakin tinggi dan sesuai dengan pola yang diinginkan.

Sebentar mencoba, kepala saya pusing. Hal ini disebabkan oleh efek gerakan berputarnya kayu yang menjadi alas cetakan. Menyerahlah saya untuk melanjutkan uji coba. Dan betapa kagetnya saya sesudah berhenti. Ternyata pakaian saya pun belepotan dengan kotoran tanah liat. Sementara sang ibu yang setia mengajari saya terlihat bersih. “Mboten napa-napa, Mas. Sinau!” ujar ibu menyemangati saya.

Ternyata, setelah cetakan selesai, masih ada proses panjang yang harus dilakukan. Setelah cetakan selesai, dilakukan pengeringan. Pengeringan ini harus berhati-hati supaya gerabah tidak mengalami keretakan. Langkah pertama adalah pengeringan dengan diangin-anginkan. Setelah dirasa cukup, barulah gerabah-gerabah ini dijemur di bawah terik matahari. Langkah pengeringan ini dimaksudkan untuk menghilangkan kandungan air yang terkandung di dalamnya.

Gerabah

Setelah keramik melewati tahap pengeringan, langkah selanjutnya adalah pembakaran. Pembakaran ini dimaksudkan supaya gerabah menjadi padat, keras, dan kuat. ada berbagai cara pembakaran. Umumnya, pembakaran dilakukan dengan dua metode, yaitu dengan menggunakan jerami dan dengan menggunakan tungku. Aneka jenis paralatan rumah tangga biasanya dibakar dengan menggunakan jerami. Pembakaran dengan tungku lebih banyak digunakan. Meski membutuhkan biaya yang lebih mahal, namun hasil pembakaran dengan tungku lebih baik dan merata.

Tahapan terakhir dalam pembuatan gerabah adalah finishing. Finishing dilakukan sebagai upaya untuk mempercantik gerabah yang dihasilkan. Seiring perkembangan zaman, aneka kreasi dan inovasi semakin berkembang. Kreasi-kreasi ini dimaksudkan supaya gerabah-gerabah ini bisa bersaing dan memiliki nilai ekonomis yang lebih.

Gerabah Kasongan telah terkenal. Dibutuhkan sentuhan-sentuhan modern sehingga gerabah-gerabah yang dihasilkan semakin berdaya jual. Di sisi lain, kekhasan Kasongan sebagai desa wisata yang natural perlu terus-menerus diupayakan. Naturalitas desa Kasongan inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini.

(Artikel dan foto : Ys. Witokaryono, Pr)