“Njajan” di Trotoar Pasar Beringharjo

“Njajan” di Trotoar Pasar Beringharjo

TERASWARTA – Kuliner | Kerumunan orang dan berbaris tak beraturan hampir setiap hari menjadi pemandangan di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Pasar terbesar dimana sentra sandang sampai dengan pangan menjadi prioritas para konsumen dari daerah maupun luar kota. Setiap sudut bahkan pintu masuk menuju ke pasar selalu dipenuhi dengan keramaian yang padat dan hiruk pikuk.

Menyelinap pada sisi kerumunan di sepanjang trotoar depan pasar mungkin perlu dicoba. Nantinya akan menemukan sebuah kuliner Pecel dan Mihun Goreng. Penjual pecel ini sudah berjajar di trotoar depan pasar. Mereka menggunakan meja kecil dan payung sebagai eyup-eyup. Selain menjual pecel mereka juga menyajikan berbagai makanan seperti lompia, gembus, tempe dan tahu bacem. Antara sela-sela barisan penjual biasanya terdapat es kelapa muda atau es dawet. Pecel dan mihun goreng dijual mulai harga Rp. 7000-an.

Sate Koyor

Berjalan sedikit ke sisi selatan pasar tepatnya ditrotoar sebelah pintu pasar, akan dijumpai penjual sate koyor alias sate lemak. Sate koyor ini biasanya sering muncul di sekaten Alun-alun Utara atau di halaman Sewondanan Keraton Pakualaman. Kepulan asap sate ini cukup khas, menyebar disekitar trotoar pasar. Sate ini sangat enak jika dimakan masih panas, bibir rasanya seperti nggedibel seperti habis menggunakan lip glos karena lemak yang tertinggal di bibir. Sate koyor dijual Rp 2000 per tusuknya.

Calung

Sedikit melangkah di trotoar ke timur dari penjual sate koyor tersebut pasti akan terdengar alunan musik calung di bawah jembatan penyebrangan sisi selatan pasar. Mereka pemuda-pemuda dengan fashion keren yang menggunakan alat musik angklung ditambah perkusi custom. Memainkan nomor lagu-lagu popular kerakyatan seperti Oplosan, Bukak Sithik Jos, Kereta Malam dan lagu dangdut koplo lainya. Alunannya begitu ritmis dan beat up mengajak semua yang melintas di depannya serasa ingin ikut bergoyang. [Elyandra Widharta]