Devile Prajurit Kraton Yogyakarta

IMG_0175

TERASWARTA – Warta | Devile Prajurit Keraton Yogyakarta akan melengkapi setiap event yang diadakan oleh Keraton yang terkenal dengan berbagai macam keragaman pajuritnya. Dan ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Maka tidak mengherankan bila devile prajurit ini selalu menjadi yang dinanti juga seperti dalam acara grebeg Maulud kemarin (14/1).

Berbicara tentang devile parjurit keraton Yogyakarta tentu tak akan lengkap bila tak mengenal juga berapa banyak macam regu atau yang biasa di kenal dengan istilah “bregodo”. Tentu tak terlalu asing bagi yang tinggal dalam lingkungan keraton seperti Surakarta atau Yogyakarta. Berbeda halnya dengan yang tinggal di luar wilayah ini.

Keraton yogyakarta sendiri saat ini memiliki kurang lebih sepuluh bregodo.

Terbagi dalam kelompok keprajuritan seperti parjurit patangpuluh, prajurit Wirobrojo, prajurit Jogokaryo, prajurit Prawirotomo, prajurit ketanggung, prajurit Mantrijero, prajurit Dhaheng, prajurit Bugis, prajurit Nyutro dan yang lainnya. Kelomp-kelompk prajurit dengan cirri masing-masing dalam penamplan seragamnya yang ini pun selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk diabadikan dalam bingkai-bingkai foto.

Saat seperti kirab datau grebeg, prajurit-prajurit ini tampil berbaris sesuai dengan urutan atau formasi tertentu dalam fungsi masing-masing. Biasanya diawali oleh tampilnya bregodo Wirobrojo  yang menurut sejarahnya memang sebagai barisan terdepan dalam berbagai pertempuran.

Prajurit dhaheng memiliki kemenarikan tersendiri juga di saat ini karena kelomk prajurit satu ini biasanya berperan memainkan lat music sperti serling, tambur, kecar, pui-pui dan lainnya. Dengan lagu yang dimainkan bernama Ondal-andil serta Kenobo. Keunikan lain adalah setiap prajurit yang masuk dalam bregodo ini berjuluk “niti”.

Sungguh sebuah kekayaan budaya yang sangat luar biasa untuk selalu di jaga dan lestarikan. Saat ini memang kemudian munculnya devile prajurit ini menjadi langka karena hanya hadir dalam beberapa acara seperti grebeg. Ini yang jadi salah satu daya tarik mengundang para wisatawan baik local maupun non local. Karya-karya fotografi yang mengabadikan mereka pun menjadi salah satu media penarik selain media masa lainnya.

Cukup menarik bukan? Maka rasanya sayang bila seperti acara grebeg MAulud kemarin Anda melewatkannya. Namun demikian jangan khawatir karena biasanya ada tiga kali grebeg dalam setiap tahunnya di lingkungan Keraton Yogyakarta ini. (A-Aji)