Apakah hidup untuk siaga bencana?

TERASWARTA – Opini | Beberapa hari, pekan, bulan bahkan tahun selalu saja santer terdengar adanya berbagai macam kesedihan bagi bangsa kita. Bencana demi bencana yang dapat kita rasa mulai dari meletusnya gunung berapi, gempa bumi, tsunami sampai banjir.

Tak melulu bencana alam saja rupanya kesedihan kita namun juga bencana berkurangnya hati nurani melalui banyaknya kasus demi kasus yang mulai terkuak di mata umum sehubungan dengan korupsi serta tindak kejahatan lain.

Sahabat teras yang berbahagia, ini bukan hanya warta yang lantas layak untuk jadi bahan pergunjingan atau obrolan yang tanpa makna namun ini cambukkan terbesar untuk kita sebagai bangsa yang majemuk. Majemuk tak hanya dalam keyakinan dan budaya namun juga kepentingan.

Kepentingan inilah yang lantas menurut saya harus ditilik sebagai bahan permenungan bersama. Tak ada salahnya dengan kata “kepentingan” ini bahkan dalam aktualisasinya bagi sebuah keberlangsungan hidup. Yang menjadi masalah adalah sejauh mana kita menjaga kemurnian kepentingan ini dalam hubungan dengan yang lain baik kepada sesama maupun alam pada khususnya. Tentang bagaimana efek yang akan dihasilkan oleh kepentingan-kepentingan tersebut.

Ini sebuah permenungan yang hanya kita pribadi saja yang tahu menilainya secara pasti, jadi rasanya tak bijak jika asal saja saya sebut kepentingan yang bersifat pribadi tersebut. Dalam tulisan ini saya hanya mempunyai gambarn keinginan alangkah indahnya jika di antara kita ini membangun sebuah kesadaran dari dalam diri kita masing-masing. Kesadaran untuk bersama memperbaiki pola kehidupan kita. Contoh konkrit adalah bagaimana kita membuang sampah pada tempatnya, bagaimana kita tebang pilih batang demi batang pohon lalu mereboisasinya atau melakukan penghijauan kembali, bagaimana kita menggali dan mengaturnya kembali agar tak begitu saja alam ini semakin rusak. tentang bagaimana kita memiliki hati nurani untuk tidak berbuat suatu kejahatan terhadap sesuatu. Sebuah hal yang nampaknya sangat sepele namun tidaklah mudah untuk kita lakukan.

Sudah terlalu banyak kesakitan kita sebagai bangsa akan hal negative yang kita sendiri lakukan. Kini saatnya kita perbaiki bersama alam kita. Alam yang sebenarnya akan memberikan segala kemudahan untuk hidup kita. Apa yang kita butuhkan sebenarnya ada dari alam sejauh kita menjaganya. Jangan ekploitasi alam secara berlebihan. Bersyukur bila ada kelompok-kelompok maupun pribadi yang telah melakukan hal ini. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah menjadi yang berperan menjaga alam ini menjadi sahabat yang baik untuk Anda?

“Apakah hidup kita hanya untuk melulu siaga bencana?” adalah hidup kita memang bila tak sedikit demi sedikit kita perbaiki hubungan baik dengan alam. Memang alam memiliki bahasanya sendiri namun tak ada salahnya bila kita pun turut menjaganya sebagai bagian terpenting hidup. Salamteras dan selalu waspada. (chip)