Sekelumit Kisah Dari Candi Gebang

Candi Gebang

Candi Gebang

TERASWARTA – Wisata | Candi Gebang, tentu anda tak asing mendengar daerah ini. Terletak tak jauh dari pusat kota Yogyakarta, tepatnya di daerah Condong Catur, Sleman. Anda akan menemui sebuah papan besar bertuliskan “Perumahan Candi Gebang”. Memang tempat ini menjadi populer karena adanya perumahan tersebut. Namun, pernahkah anda berfikir dari mana penamaan Candi Gebang ? Apakah memang benar ada candi di daerah dengan padatnya perumahan?, jawaban anda akan terbukti jika berkunjung di daerah Dusun Gebang, Wedomartani, Ngemplak, Sleman atau di sebelah barat daya stadion Maguwoharjo kebanggan masyarakat Sleman. Disini anda akan menemui bangunan berukuran 5,25 x 5,25 meter persegi dengan tinggi 7,21 meter dan terbuat dari batu andesit hitam. Keraguan anda akan segera sirna, ketika mengetahui bahwa sebelum bangunan perumahan yang banyak didirikan oleh pengembang, telah ada bangunan tua yang terbangun sekitar tahun 700-800an Masehi.

suasana Candi Gebang dengan latar belakang Stadion Maguwoharjo

suasana Candi Gebang dengan latar belakang Stadion Maguwoharjo

Sebenarnya candi ini belum di temukan nama aslinya karena tidak ada bukti tertulis baik prasasti atau dalam kitab kuno mengenai nama candi ini, sehingga masyarakat di sekitar candi  menamai candi ini dengan nama dusun mereka yaitu Gebang. Candi yang temukan sekitar tahun 1936 oleh penduduk sekitar, dan baru pada tahun 1937  di lakukan pemugaran oleh Oudheid Dienst atau Dinas Purbakala pada jaman Kolonialisme Belanda, dipimpin olehProf. Dr. Van Romondt dan selesai pada tahun 1939.

Bagian dalam candi terdapat umpak batu

Bagian dalam candi terdapat umpak batu

Untuk keunikan candi ini kami sempat berbincang dengan Shobari, penjanga malam objek wisata Candi Gebang. Beliau bercerita bahwa candi ini mempunyai keunikan karena walaupun candi ini beraliran agama Hindu namun di atap candi masih ada aliran agama Budha, hal ini dapat di buktikan dengan adanya kepala Budha yang terpahat jelas di keempat sisi candi. Bapak 60 tahun yang juga pernah ikut pemugaran Candi Brahma, di kompleks Candi Prambanan ini menambahkan kemungkinan besar agama Hindu pada waktu itu belum luas dan hanya di anut oleh masyarakat sebagian kecil saja, “ini saya kira dulu adalah sebuah tempat sembahyang agama Hindu di sebuah padepokan kecil yang akhirnya di tinggalkan begitu saja” tuturnya. Dari sini kita dapat menilik kembali bahwa keberadaan candi ini kemungkinan lebih tua daripada kompleks Candi Sewu dan Candi Prambanan yang merupakan candi megah karana baru di bangun sekitar abad 9 Masehi atau sekitar tahun 856 M.

atap candi masih menampilkan corak agama Budha dengan rupa kepada Budha di keempat sisi candi

atap candi masih menampilkan corak agama Budha dengan rupa kepala Budha di keempat sisi candi

Sangat di sayangkan beberapa arca di candi ini tidak lengkap, hanya terdapat satu patung Ganesha yang berada di sisi barat candi sedangkan di sebelah timur candi terdapat arca Nandiswara yang hanya satu buah namun kondisinya tidak utuh juga karena kepala acra tersebut hilang dicuri oleh orang tak bertanggung jawab. Candi yang terletak tak jauh dari sungai yang juga merupakan ciri khas bangunan Hindu ini didalamnya terdapat suatu Yoni atau Umpak batu diduga sebagai tempat meletakkan sesaji, hal yang masih menjadi misteri lainnya adalah tidak ada pintu masuk ke dalam candi karena diduga tangga tersebut hanya terbuat dari kayu yang sekarang sudah tidak dapat di temukan kembali karena lapuk termakan usia. Sekelumit kisah dari candi gebang yang semoga bermanfaat.  (Hng)

arca Ganesha

arca Ganesha

jalan ke Cnadi Gebang terlihat sepi

jalan ke Candi Gebang terlihat sepi