Rasionalisasi diri itu berbahaya?

Rasionalisasi diri

Rasionalisasi diri

TERASWARTA – Opini | Dalam kehidupan kita sehari-hari tanpa kita sadar telah menjadi manusia yang terkadang menyalahkan orang lain sebagai bentuk pertahanan diri. Hal inilah yang biasa di kenal dengan rasionalisasi yakni sebuah kegiatan dalam bentuk alasan sebagai sebuah mekanisme pertahanan diri yang biasanya adalah tindakan-tindakan yang kontroversi.

Sahabat teras, rasanya menarik pembahasan ini lantaran tanpa kita sadar keadaan ini tak sepenuhnya baik bahkan bisa jadi berbahaya. Alasanya cukup sederhana karena rasionalisasi ini bisa menjadi sebuah tanda bagaimana seorang pribadi tidak siap akan adanya konsekwensi-konsekwensi dari sebuah tindakan yang telah dilakukan. Contoh dari hal ini adalah perilaku yang nampak pada seorang ketua panitia sebuah acara penting yang seharusnya dimulai pada pukul 10.00 pagi kemudian menjadi molor sampai pukul 10.30 pagi karea hujan yang turun. Hal ini yang lantas mengakibatkan munculnya rasa takut, rasa bersalah, dan juga penolakan akan sebuah tuduhan kesalahan. Alhasil sang ketua kemudian mencoba mencari berbagai cara untuk menyalahkan yang lain dengan berbagai alasan.

Contoh lain pada saat ini adalah seperti bagaimana para suami menyalahkan isteri atau sebaliknya karena nilai sang anak dalam ujian jelak. Orang tua yang lantas juga menyalahkan anak karena sebuah ketidak berhasilan dan anak pun menyalahkan orang tuanya. Ini rasionalisasi yang muncul oleh rasa ingin saling mencari pembenaran atas dirinya sendiri.

Melihat hal di atas maka perlu kita tahu apa saja sebenarnya yang mengakibatkan rasionalisasi dalam diri kita ini muncul, berikut pembahasannya :

Rasa takut :

Rasa yang biasanya ada oleh sebuah konsekwensi atau kebiasaan yang muncul dalam keseharian seperti tanggungjawab kepala keluarga, tanggungjawab kekasih, tanggungjawab anak dalam studi dan lain sebagainya. Rasa takut menjadi penyebab rasionalisasi oleh ketakutan-ketakutan ketidak berhasilan di mata orang lain.

Rasa cemburu :

Rasa ini adalah rasa yang bisa menghancurkan banyak hal. Rasionalisasi muncul melalui kebiasaan mengkritik orang lain yang selalu dianggap sebagai batu sandungan. Segala hal yang dilakukan orang lain tersebut selalu tak benar mulai dari berpakaian, bicara sampai masalah kekasih padahal sebenarnya yang terjadi adalah dirinya sendiri merasa tak mampu melakukan salah satu hal yang dibuat oleh orang lain tersebut.

Rasa Sombong :

Kesombongan ini menyebabkan rasionalisasi muncul  saat kita tidak mau mengakui sebuah kekalahan dengan memunculkan berbagai alasan mulai dari kata belum belajar, belum biasa, tidak dalam keadaan sehat atau yang lainnya padahal senyatanya orang lain tersebut memang lebih unggu dari diri kita.

Sahabat teras, ini adalah sedikit pembahasan tentang rasionalisasi dalam diri kita yang seringkali muncul. Tujuannya adalah agar kita sungguh mampu menjadi pribadi-pribadi yang dewasa dan menerima diri, hal ini tentu dengan cara mengenal benar apa yang ada dalam diri kita sendiri. Kesadaran-kesadaran inilah yang bisa menjadi jembatan untuk meminimkan rasionalisasi dalam diri yang bisa jadi berbahaya dalam hubungan kita bersama dengan orang lain. Ada banyak lagi sebenarnya yang bisa memunculkan rasa ini  seperti keinginan terhadap rasa aman, mementingkan diri sendiri dan lain sebagainya. Mari belajar dari pengalaman kita sendiri, perasaan dan keinginan kita yang terdalam sehingga menjadi pribadi yang berani menghadapi konsekwensi kedepannya. (inspirasi dari Gene A getz – chipriant)