Prosesi Upacara Merti Dusun Kirab Prajurit Kyai Pendhem

“HAMEMARDI MARDAWANING BUDAYA – MBUDIDAYA RAHAYUNING KAWULA”

TERASWARTA – Warta | Ritual merti dusun adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas panen yang berlimpah, hal ini dilakukan oleh dusun Pendeman desa Trimulyo kecamatan Sleman kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Minggu 8 Desember 2013. Acara diawali dengan upacara pembukaan bertempat di lapangan Balai Desa Trimulyo, dihadiri oleh ratusan warga dan peserta kirab yang terdiri dari lima RT dusun Pendeman dengan membawa gunungan dan dikawal oleh para Bregada.

Acara dibuka oleh Camat Sleman Drs. Iriyansyah. dalam sambutannya Drs. Iriyansah mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dusun Pendeman yang telah menyelenggarakan acara merti dusun untuk yang kelima kalinya, hal ini menunjukan  bahwa masyarakat Pedeman masih konsisten dalam nguri-uri kebudayaan daerahnya. Beliau  juga berharap agar acara merti dusun ini tetap terus dilestarikan karena mempunyai nilai budaya yang adiluhung. Sebelum mengakhiri sambutannya  Drs. Iriyansyah menjelaskan bahwa acara merti dusun bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur dari masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat yang diberikan berupa hasil bumi yang melimpah pada tahun ini.

Prosesi acara merti dusun Pendeman dimulai dari deville pemeriksaan barisan oleh Camat didampingi Manggala, dilanjutkan kirab Bregada dan 7 Gunungan berjalan menuju sawah untuk melakukan prosesi upacara Tedhun. Adapun urutan kirab yang terdepan adalah Cucuk Lampah (Penthul-Tembem-Edan-edanan) barisan kedua pembawa Bendera setelelah itu Kereta Manggala, Prajurit Prana, Prajurit Jati, Bregada Pangarsa Praja, Bregada Bhineka Tunggal Ika, Bregada Potensi Kring, Prajurit Kyai Pendhem Satrio Ngamboro, Bregada Pareden RT 01-RT 02-RT 03, Prajurit Kyai Pendhem Satiro Daruna Saniskara, Bregada Pareden RT 04-RT 05, Bregada Pareden Pisungsung/Tali Asih Pepen, Bregada Prajurit Klegen, Bregada Gunungan dan yang terakhir Bregada Ternak.

Rombongan kirab bregada tiba disebuah area persawahan yang bertempat di sebelah selatan gapura masuk dusun Pendeman untuk melaksanakan upacara Tedhun (Murwa Tanem – Permulaan Tanam Padi). Prosesi diawali dengan doa memohon kepada Tuhan agar diberi kesuburan yang nantinya akan menghasilkan panen padi yang berlimpah, kemudian dilanjutkan penanaman padi secara simbolis oleh para pemuka agama dan pejabat pemerintahan.

Setelah melaksanakan prosesi upacara Tedhun rombongan kirab melanjutkan perjalannya menuju Pendopo Dusun Pendeman untuk melaksanakan  berbagai macam prosesi upacara merti dusun. Diawali dengan sambutan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman dalam hal ini diwakili oleh Santoso, Spd. Pada sambutannya Santoso menegaskan bahwa kebudayaan itu adalah sebagai pemersatu diantara warga masyarakat, kebudayaan tidak memandang perbedaan agama, hal ini dilambangkan dengan adanya Bregada Bhineka Tunggal Ika (keberagaman) yang didalamnya terdiri dari Jamaah Masjid Al-Ikhlas, Jamaah Masjid Al-jailani dan perwakilan dari umat Kristiani. Harapan Santoso, Spd dengan meningkatkan dan melestarikan budaya tradisional maka akan memperkokoh kerukunan umat beragama baik di dusun Pendeman khususnya maupun di Negara Kesatuan Republik Indonesia pada umumnya. Acara di Pendopo ini juga dihadiri oleh Lurah Desa Trimulyo Suharjono. HK, Spd dan Anggota DPRD I dan II. Acara dilanjutkan dengan pelepasan Gunungan Tali Asih Pepen untuk diserahkan ke dusun Pepen dengan maksud sebagai persembahan dan tali kasih karena selam ini dusun Pendeman mengambi sumber air dari dusun Pepen. Sedangkan Gunungan Klegen diserahkan ke wilayah Klegen karena dahulu wilayah Klegen masuk dalam wilayah  dusun Pendeman,akan tetapi kemudian wilayah Klegen sekarang ini sudah digabungkan dengan dusun lainnya.


Ngrayah Gunungan

Acara prosesi merti dusun Pendeman diakhiri dengan acara ngrayah Gunungan, inilah acara yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat sekitar. Ada lima gunungan yang disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat, dengan ditandai dengan bunyi  kenthongan maka siapa saja diperbolehkan mengambil hasil bumi yang disusun hingga berbentuk kerucut seperi gunung. Dipercaya masyarakat bahwa hasil bumi yang ada digunungan tersebut bisa membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya. Ibu Yatmi (57) sudah sejak pukul 8 pagi berada di Pendopo Pendeman hanya untuk menunggu berebut atau ngrayah Gunungan, wanita paruh baya ini memperoleh beberapa hasil bumi dari ngrayah Gunungan namun sesampainya dirumah nanti tidak untuk dikonsumsi akan tetapi untuk disimpan, karena diyakini akan membawa berkah untuk keluarganya. Sementara itu di tempat terpisah tepatnya di dusun Pepen nampak diantara keruman masyarakat yang menunggu serah terima Gunungan Tali Asih nampak beberapa wisatawan manca negara yang ikut menyaksikan prosesi ini. Salah satu dari wisatawan tersebut bernama Chaitanya Dilip Sangawara  warga Negara India mengatakan bahwa dirinya bersama teman-teman dari berbagai Negara seperti Polandia,Jerman,Italy dan Yunani sedang berlibur di Jogja, kemudian mereka mendapat informasi tentang acara merti desa ini, untuk memenuhi rasa penasarannya merka akhirnya datang ke acara ini . Saya sangat terkesan  dengan acara ini karena menampilkan tradisi yang sangat kuat, dan baru sekali ini saya melihat acara seperti ini, dan mungkin saya akan kembali lagi ke jogja dikemudian hari bersama teman-teman yang lainnya untuk melihat acara-acara seperti ini ujar Chaitanya.