Jangan ada ruang untuk jiwa pecundang

bukan pecundang

TERASWARTA – Opini | Sahabt teras, mentari dii setiap pagi hari bangun dari peraduannya lantas seolah tersenyum kepada sang dunia dengan hangatnya. Sang mentari tak akan pernah peduli bersinar meski mendung menghalangi dirinya. Demikian sang matahari ada setiap saat dan waktu meski ada sang malam menjadi jedanya.

Sahabat teras, saya hanya ingin mencoba mengajak anda dan kita menengok kembali apa yang ada di atas, bahwa sebenarnya semangat dalam kehidupan kita ada baiknya belajar dari sang mentari ini. Malam adalah sebuah kerangka yang baik bila kita lihat sebagai sisi di mana kita memiliki waktu untuk menilik apa yang telah kita buat saat berjalan bersama sang mentari yang bernama waktu pagi sampai senja. Ampai seberapa besar keberhasilan kita melewati waktu-waktu dalam hidup kita.

Ada yang indah dari saat-saat ini yakni bagaimana kita sebagai pribadi memulai sebuah karya/kegiatan. Satu yang dibutuhkan untuk mampu berkarya dengan baik kita butuh semangat dan tentu keinginan kuat didalamya sedang ada banyak hal yang menghalangi semangat ini yang menjadikan waktu berjalan seolah lama dan tak menyenangkan.  Apa saja itu, berikut menurut opini saya beserta cara mengetasinya :

Kesehatan :

Ini menjadi hal yang terkadang menghalangi semangat dan kinerja kita, maka ada baiknya selalu menjaga kesehatan anda. Perbaiki pola makan, olah raga dan cara hidup anda untuk menjadi pribadi-pribadi yang sehat. Jangan manjakan tubuh anda dengan mengatakan “saya kurang sehat”.

Berfikir negatif :

Ini biasanya terjadi saat kita merasakan sebuah “kekalahan”, merasa tak mampu atau merasa akan ada yang menjadi batu sandungan dari keinginan kita. Ini perlu yang perlu kita tepis karena terkadang belum tentu apa yang kita fikirkan negatif terhadap suatu hal atau seseorang sama seperti yang kita fikirkan.

Perasaan takut :

Ini adalah perasaan yang acapkali muncul di saat kita akan melakukan sesuau terlebih bila itu hal yang besar. Untuk mengatasi ini semua adalah mencoba untuk tegar dalam keinginan anda. Lakukan saja dengan segala resiko yang anda akan terima karena sadar atau tidak bila kita memiliki sebuah keinginan pasti sebanrnya ada rencana-rencana yang telah terbentuk.

Merasa sendiri :

Perasan ini biasaya muncul pada saat kita berada dalam sebuah kegagalan atau keterpurukan. Menjadi seolah sahabat bahkan orang yang terdekat sekalipun menghindari dan seolah sangat jauh dari kata pertolongan. Inilah realitasnya bahwa tak banyak yang akan bertahan dengan orang yang baru “jatuh”. Maka solusinya adalah menyadari hal ini. Hiduplah atas diri anda sendiri seperti sebuah kata bijak yang berbunyi “kita datang ke dunia ini sendiri demikian saat pergi nanti”. Artinya memang sebenarya kita bertahan adalah oleh diri sendiri bukan oleh orang lain meski itu perlu.

Kurang bersyukur :

Ini juga menjadi salah satu sebab menjalani hari baru seolah tidak menyenangkan. Coba tilik kembali atas segala pencapaian. Turun dan naiknya kehidupan itu hal yang wajar. Seperti sebuah pepatah bahwa roda berputar itu ada benarnya. Tak selamanya roda itu di bawah namun catatannya adalah berjalan. Kurangnya rasa syukur tak jarang menjadikan kita sebagai pribadi yang sombong tau bahkan menyerah dan berpasrah begitu saja tanpa mampu banyak berbuat sesuatu.

Sahabat teras, demikian hal-hal yang membuat hari-hari kita bersama sang mentari yang menemani seolah berat dan lama. Jangan beri ruang bagi jiwa sang pecundang hidup dalam hati kita. Hidp semakin berat sedang waktu itu selalu saja berputar. Mari jadi pribadi-pribadi yang kuat dan pantang menyerah seperti sang mentari yang akan selalu saja bersinar meski mendung menutupinya sekalipun. Dan jadikan sang malam untuk berdiam diri menilik apa yang telah berhasil kita lakukan lantas membuat rencana baru untuk dilakukan esok harinya.  (chip)