Upacara Wedar Hayuning Penataran

ritual candi utama

TERASWARTA – Warta | Minggu (17/11) lalu, sebanyak kurang lebih 2000 umat Hindu yang datang dari berbagai wilayah di Jawa Timur bahkan dari Jawa Tengah, Jawa Barat dan Bali memadati area pelataran Candi Penataran untuk mengikuti Upacara Wedar Hayuning Penataran. Upacara yang merupakan wujud persaudaraan antara umat Hindu se-Jawa dan Bali baik dari trah Pajajaran di Barat hingga Mataraman yang merupakan keturunan para pemeluk agama Hindu sejak era kerajaan Majapahit.

Ritual yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB tersebut dipimpin oleh para Rsi dan Pandita Utama yang berasal dari Jawa Bali, dan diawali dengan Upacara Puja terhadap Hyang Widhi, Ibu Pertiwi dan juga kepada Mahapatih Gajahmada selaku sosok yang telah berjasa besar mempersatukan Nusantara dibawah kepemimpinan Majapahit.

Selain itu, umat Hindu juga turut mendoakan keselamatan bangsa dan negara agar terhindar dari perpecahan dan disintegrasi bangsa serta tetap menjunjung tinggi Pancasila sebagai Dasar Negara yang menumbuhkan semangat nasionalisme dan toleransi antar umat beragama.

prosesi utama

Ribuan umat yang memadati area pelataran candi tampak khusyuk mengikuti ritual tersebut, demikian juga pengunjung beragama lain baik dari masyarakat sekitar maupun luar daerah sangat menghormati umat Hindu yang sedang memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Selama ritual berlangsung hampir tidak terdengan berisik kerumunan pengunjung atau suara-suara lain yang mengganggu meditasi umat yang berpakaian khas putih-putih dengan penutup kepala berupa udeng bagi para pria, dan selendang yang dililitkan di pinggang bagi perempuan.

Puncak ritual ditandai dengan disatukannya simbol bendera Majapahit dengan bendera Merah Putih sebagai simbol sinergi antara kejayaan masa lampau Nusantara dibawah Majapahit dengan Nusantara di masa kini. Raden Mas Wima Brahmantya selaku Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar dan pemerhati budaya didapuk sebagai tokoh yang menjunjung simbol tombak Majapahit dengan diiringi percikan Tirta dari para Rsi yang maju ke tengah pelataran.

penataran jawi

Acara ditutup dengan pembagian Tirta atau air suci yang telah didoakan oleh para Rsi dan Pandita di puncak candi utama Penataran kepada para umat dan pengunjung yang berkenan meminta air berkah tersebut. Nampak sebagian umat yang menitikkan airmata pasca prosesi berakhir dikarenakan rasa haru mengingat ini adalah kali pertama Candi Penataran dapat dipergunakan sebagai tempat pemujaan umat Hindu yang utama dan terbesar di Jawa Timur sesuai dengan fungsi aslinya berdasarkan sejarah. Bahkan sebagian umat yang datang dari jauh seperti Klaten, Jombang, Gresik hingga Bali tetap bertahan hingga acara berakhir dikarenakan larut dalam semangat persaudaraan yang kuat antar sesama umat Hindu Dharma.

Acara yang menyuguhkan akulturasi budaya Jawa dan Hindu ini cukup menarik perhatian beberapa wisatawan asing yang bahkan sengaja datang dari Bali untuk mengikuti ritual bersama. Salah satunya adalah Made Widya, seorang wisatawan asli Australia yang telah lama tinggal di Indonesia dan memeluk agama Hindu datang bersama kedua rekannya di Penataran. Walaupun ia menilai ritual ini tidak sekhidmat di Bali, namun ia-yang menolak memberikan nama kelahirannya-tetap takjub akan budaya asli Jawa yang ditampilkan sepanjang acara melalui gamelan dan gending Macapat yang tentu saja tidak ditemukannya di Pulau Dewata. Made yang juga seorang jurnalis dan telah fasih berbahasa Indonesia ini menilai bahwa bangsa Indonesia harus dididik untuk bangga akan identitas budayanya dan jangan sampai terpengaruh budaya luar sedemikian hingga melupakan akar dan asal usulnya yang sejati. Sebuah pesan yang singkat, padat dan cukup berkesan bagi seorang perempuan pribumi yang sudah berusaha cukup keras untuk tampil dan menunjukkan ke-Jawa-an nya dengan alakadarnya, hanya memakai kebaya lurik dan jarik yang tidak rapi wiru nya pada hari itu, seperti saya.

(foto dan artikel : theresia E)