Tradisi Jamasan Pusaka

Salah satu pusaka dalam prosesi jamasan

Salah satu pusaka dalam prosesi jamasan

TERASWARTA – Opini | Di beberapa daerah di Jawa pada khususnya terdapat sebuah tradisi “jamasan” pusaka. Hal ini tentu bukan hal yang aneh bagi banyak orang namun tentunya bagi sebagian orang belum tahu apa itu maksud jamasan.

Istilah jamasan ini adalah sebuah istilah untuk menggambarkan sebuah tata cara pembersihan pusaka. Pusaka yang dimaksud bisa berupa apa saja semisal keris, tombak, kereta yang biasanya adalah milik keraton, dan lain sebagainya. Dalam pusaka sendiri biasanya mengandung beberapa unsur yang tak bisa begitu saja dilepaskan keterkaitannnya mulai dari sejarah keberadaan atau lahirnya pusaka itu samapai dengan faktor mistis di dalamnya.

Dalam hal lain yang lebih bisa dilihat adalah adanya beberapa unsur yang melekat seperti berbentuk senjata maka bisa dipastikan pusaka ini memilik bentuk yang bisa dilihat atau diraba.. unsur yang kedua adalah unsur seni dan budaya yang bisa dilihat dari sejarah sampai dengan nilai estetis yang terkandung didalamnya dimana biasanya unsur seni jadi dominasi sesuai dengan masa pembuatan. Unsur ketiga adalah unsur mistis yang dalam hal ini hanya bisa dirasakan oleh sang pemilik atau bisa juga melalui pengalaman spiritual tersendiri bagi yang mampu melihatnya.

Jamasan ini sendiri biasanya dilakukan pada bulan suro yang kurang lebih sebenarnya memiliki maksud membersihkan pusaka dari berbagai kotoran yang bisa merusak baik barang ataupun pamornya. Istilah menyucikan, nyirami atauu ngawisi adalah istilah yang biasanya digunakan dalam proses ini.

Tak berhenti pada proses penyucian ini saja, cara yang digunakan adalah dengan melumasi minyak pusaka seperti minyak cendana, melati, kenanga, mesik dan lain sebagainya. Tempatnya pun biasanya bukan ditempat yang sembarangan. Bisa jadi seseorang rela melakukan jamasan ini jauh dari kediamannya untuk pergi ketempat-tempat yang disucikan. Setelah proses demi proses ini maka yang terakhir adalah menyimpan pusaka pada tempat yang aman, yang jauh dari jangkauan anak kecil dan biasanya memiliki tempat tersendiri yang di hormati.

Demikian sekilas tentang tradisi “jamasan” atau pembersihan pusaka yang tentu bila dikaitkan secara logis adalah merawat sebuah barang dengan nilai seni, budaya dan sejarah yang tinggi agar lestari di luar sisi mistis yang tetap akan selalu jadi bagian terpenting juga.