Memudarnya Budaya Gotong Royong

Suasana Kerja bakti di sebuah desa

Suasana Kerja bakti di sebuah desa

TERASWARTA – Opini | Masih teringat jelas dalam ingatan saya di tahun 1980-an bagaimana rumah orang tua saya di mana saya tumbuh dan berkembang waktu itu adalah hasil sentuhan begitu banyak orang. Masih jelas pula dalam benak saya bagimana waktu itu tanah garapan kakek saya tersentuh oleh begitu banyak orang yang saat itu seolah tanpa banyak biaya yang harus keluar. Para tetangga datang tanpa berfikir banyak pamrih untuk begitu ringan tangan membantu. Bagaimana sebuah musyawarah untuk mufakat menentukan kapan harus diadakan gotongroyong membantu renovasi sebuah rumah atau panen bersama. Dan saat itu upahnya adalah makan bersama atau bila panen adalah pembagian hasil yang mungkin tidaklah seberapa namun kerukunan adalah yang menjadi nilai yang paling besar didapatkan.

Tragis mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perubahan kesifatan masyarakat modern saat ini dimana individualisme seakan menjadi raja. Uang yang lantas menggantikan semuanya. Ronda bergilir bisa diganti dengan cukup iuran saja atau bila diperumahan adalah dengan cara menyewa jasa satpam. Di sisi lain alasan logis  lantaran tuntutan kerja yang banyak memakan waktu, memberi lapangan pekerjaan dan lain sebagainya muncul sebagai dominasi jawaban. Wajar memang, namun yang terjadi kemudian adalah komunikasi antar warga menjadi sangat minim. Saling mementingkan kepentingannya sendiri di atas kepentingan bersama di akui atau tidak inilah yang terjadi saat ini.

sapu lidi yang bermakna bagi Nusantara

sapu lidi yang bermakna bagi Nusantara

Modernisasi telah banyak mencerdaskan anak bangsa, mensukseskan banyak pribadi namun harapannya tentu bukan lantas meninggalkan budaya-budaya nusantara yang “adi luhung” yang seharusnya terus dijaga sebagai jiwa. Dan ini adalah tugas kita kembali untuk membangkitkannya kembali. Filosofi tentang sapu lidi kiranya juga sangat perlu kita tumbuh kembangkan lagi sebagai dasar kebersamaan masyarakat sehingga tidak hidup hanya atas dasar kepentingan pribadi atau golongan semata.

Budaya gotong royong, salah satu hal yang saat ini seakan tersisihkan oleh semangat materialistis. Ada memang beberapa yang masih terus menjaga budaya yang sangat luhur ini  terutama di desa-desa namun akan lain sama sekali di perkotaan. Mari kembali kepada semangat-semangat sederhana masa lalu dalam kancah perkembangan modernisasi ini agar tidak menjadi bangsa yang lupa akan diri sendiri dan puas menjadi sama dengan bangsa lain yang mungkin adi kuasa. Mari menjadikan bangsa ini sama di mata sebuah peradapan akan kemajuan teknologi, kecerdasan, dan lain sebagainya namun dengan jiwa sederhana yang saling peduli satu dengan yang lain. (chipriant)