Malam Satu Suro di Puncak Suroloyo

Tirakatan Malam Satu Suro di Suroloy

Tirakatan Malam Satu Suro di Suroloyo

TERASWARTA – Warta | Berangkat kurang lebih pada pukul 19.00 Wib (senin, 4/11/2013)  teraswarta.com menuju ke sebuah tempat yang sejak beberapa hari ini muncul dalam berbagai postingan di banyak media sosial. Sebuah tempat yang dikenal dengan nama Puncak Suroloyo karena memang keberadaannya yang di posisi ketinggian pegunungan ini.

Gerimis menemani perjalanan kami sesaat setelah memasuki sekitar kalibawang yang tak menyurutkan niat kami untuk datang ke prosesi malam satu suro dengan berbagai acara yang ada dalam bayangan kami. Jalan yang turut naik dan tak luput kabut tebal yang cukup membatasi jarak pandang pun menjadi tantangan tersendiri yang tak urung membuat kami harus mengurangi laju kendaraan.

Kami saat itu tak sendiri juga lantaran rupanya ada banyak sekali yang berjalan menuju ke arah yang sama. Berbagai plat nomor yang  bisa kami baca menunjukkan bahwa pengunjung yang naik ke puncak Suroloyo ternyata bukan hanya datang dari sekitaran Kulon Progo saja melainkan dari berbagai tempat bahkan dari luar kota Yogyakarta seperti Magelang, Banjarnegara dan masih banyak lagi.

Antrian Pengunjung Malam atu Suri di Suroloyo

Antrian Pengunjung Malam satu Suro di Suroloyo

Sesampainya di pintu masuk menuju Puncak Suroloyo kami harus mengantri dulu dalam jajaran puluhan kendaraan roda dua malam tadi yang mendominasi. Hal ini mungkin karena dirasa dengan kendaraan roda dua memang akses jalan ini akan lebih mudah dicapai meski perlu diingat juga bila anda ingin berkunjung ke tempat ini harus yakin bahwa kendaraan anda cukup sehat dan kuat untuk mencapai tanjakan yang cukup menantang.

Setelah memarkir kendaraan kami pun menyempatkan diri untuk membeli minuman penghangat yang terkenal di daerah ini yakni Kopi Suroloyo dan tanpa basa-basi kami pun masuk sebuah tempat minum bersama dengan beberapa rekan media  serta pengunjung lain sambil menunggu acara cirakatan dimulai.

Kurang lebih pukul 22.00 wib kami akhirnya naik ke sebuah pondok yang menjadi tempat berlangsungnya acara tirakatam malam satu suro. Telah hadir di sana beberapa bapak-bapak setengah baya dan bahkan tua dengan pakaian jawa dan acara pun dimulai. Cukup meanrik karena acara dimulai dengan lantunan tembang-tembang mocopatan seperti Megatruh, Gambuh, Pocung, Dandang Gulo dan lainya yang menceritakan berbagai hal tentang kehidupan masyarakat di sekitar Suroloyo sampai dengan pemerintahan Kulon Progo. Lantunan lagu-lagu jawa yang saat ini tak banyak yang mendalaminya lagi. Suasana menjadi tampak semakin terasa khidmad saja. Melalui lagu ini pula kami tahu bahwa rupanya mereka menanti rombongan “Lampah Ratri” yakni rombongan jalan kaki dari desa Madugondo dan sekitarnya di bawah Suroloyo yang berjumlah puluhan orang yang akhirnya sampai dipadepokan ini pada pukul 23.15 menit.

Para peserta "lampah ratri" dalam suasana penuh kabut

Para peserta “lampah ratri” dalam suasana penuh kabut

Acara terus berlangsung dengan mocopatan sampai saat jam menunjukkan pukul 00.00wib yang menunjukkan tahun baru 1435 Hijriah telah tiba. Acara kemudian di isi dengan doa lintas agama yang diwakili oleh para tokoh agama baik dari Muslim maupun Kristiani. lebih menarik lagi juga adanya kenduri dan makan bersama yang menambah keakraban dalam acara ini.

Bp. Suharto yang adalah salah satu pemrakarsa Paguyuban masyarakat Penjaga Kelestarian Budaya mengungkapkan agar masyarakat semakin mencintai budaya semacam ini termasuk “mocopatan” dan berharap acara ini dapat menjadi salah satu sarana bagi kebersatuan antar umat beragama agar damai di Nusantara ini teracapai.

Acara yang dikemas dengan sederhana namun cukup menarik dengan peran serta dan dukungan banyak pihak seperti GP Ansor, Banser, Karang Taruna serta lainnya yang secara bahu membahu melangsungkan acara ini. Hari ini juga akan diadakan beberapa acara yang masih menjadi satu rangkaian acara tahun baru 1435 H.