LABUHAN PURA PAKUALAM DI PANTAI GLAGAH.

mengarak-uba-rampe

Mengarak uba rampe

 TERASWARTA – Wisata | Upacara labuhan kembali di laksanakan oleh Pura Pakualaman pada hari Kamis (14/11) di pantai Glagah Indah, Kulon Progo. Dalam acara ini turut hadir juga Menpora KRM. Roy Suryo sebagai pihak dari Pakualaman di dampingi oleh Wakil Bupati Kulon Progo Drs.H.Sutedjo berserta Dinas Budparpora Kulon progo.

Acara diawali oleh pembacaan do’a yang bertempat di Pesanggrahan Pakualaman dilanjutkan dengan arak-arakan gunungan berupa uba rampe yang berjumlah 6 gunungan, 5 diantaranya mewakili kelurahan dari kecamatan Temon yaitu Palihan, Glagah, Sindutan, Jangkaran dan Karang Wuni dan sebuah uba rampe dari Pura Pakualaman.

Menpora Roy Suryo beserta Wakil Bupati Kulon Progo

Menpora Roy Suryo beserta Wakil Bupati Kulon Progo

Setelah pembacaan do’a selesai dilanjutkan dengan kirab sejauh 3 km menuju objek wisata pantai Glagah dengan kawalan perajurit Pakualaman, baris terdepan diisi oleh bergada Lombok Abang, dilanjutkan dengan bergada Plengkir, Jodang, jokokarto, Jodang dua, dan terakhir bergada Kuwagon yang berasal dari penduduk setempat. Sementara di pantai Glagah sudah sejak dari pagi hari berlangsung acara kesenian Incling Sekar Gila dari Temon yang bertujuan sebagai acara penunggu sekaligus menarik para wisatawan dan warga untuk datang meramaikan acara labuhan.

Sesampainya di pantai Glagah, para sesepuh dan utusan dari Pakualaman memanjatkan do’a sekaligus meminta ijin pada penguasa laut selatan, dengan harapan semoga apa yang telah diberikan akan kembali menyejahterakan bagi kehidupan. Setelah semua prosesi berjalan, prosesi diakhiri dengan larungan uba rampe atau gunungan ke laut, uba rampe yang berupa sandang dan hasil bumi seperti sayur mayur kemudian diarak kepinggir pantai dan menjadi perebutan oleh warga. Sutiyo (45) warga Purworejo mengaku dirinya sengaja datang ke pantai Galagah guna memperebutkan padi yang nantinya akan di sebar di sawah dengan harapan padi yang akan di tanam tumbuh subur, “saya sengaja dateng ke sini, tak sempatin buat nyari padi dari uba rampe yang dilabuh, semoga saja akan subur kelak pas masa tanam” akunya.

warga berebut uba rampe

warga berebut uba rampe

Saat di wawancarai, pihak dari Puro Pakualaman KRT. Rojo Anggoro dan KPH. Kusumo menerangkan event ini adalah momen yang sakral bukan berarti kita percaya kepada laut, namun kita ingin apa yang kita dapat dari alam nantinya juga kembali ke alam, kita juga melaksanakn upacara ini juga karena ucap syukur kita terhadap Gusti (Tuhan.red). Beliau menambahkan, laut sebagai larungan kita karena itu perwakilan dari alam, alam akan menerima apa yang sudah kita dapatkan darinya, sehingga ini adalah kegiatan yang bukan saja sebagai pelestarian budaya, namun juga bentuk terimakasih kita terhadap alam, tandasnya.