Kampung Inggris, Icon Wisata Edukatif Kabupaten Kediri

Kampung Inggris

Kampung Inggris

TERASWARTA – Wisata | Pernahkah anda mendengar berita tentang sebuah desa di Jawa Timur yang memiliki lembaga kursus Bahasa Inggris terbanyak se-Indonesia yang terletak dalam satu kawasan khusus yang terkenal dengan nama Kampung Inggris?

Ya, Kampung Inggris tepatnya adalah sebuah kawasan dimana Anda akan merasakan atmosfir yang berbeda dalam pembelajaran Bahasa Inggris dibanding dengan daerah lainnya di Indonesia. Hal ini dikarenakan dalam kawasan yang secara administratif terletak di sekitar Jalan Anyelir dan Jalan Brawijaya, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri ini memiliki jumlah lembaga kursus terbanyak yang didirikan oleh perorangan dalam satu desa sekaligus yaitu sekitar 172 lembaga yang tersebar di sepanjang dua jalan utama tersebut.

Jumlah lembaga kursus terbanyak yang dimiliki Kampung Inggris menjadikan kawasan tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi para pelajar, mahasiswa atau kalangan umum dari berbagai wilayah di Indonesia yang ingin memperdalam kemampuan Bahasa Inggris mereka secara lebih intensif pada berbagai pilihan lembaga yang ada di kawasan ini.

Kawasan Kampung Inggris yang berjarak sekitar 180 kilometer dari Surabaya-dan memiliki akses jalan yang mudah ditempuh dengan jalan darat baik dari arah barat ataupun timur seperti Malang dan sekitarnya-membuat daerah ini selalu ramai dikunjungi wisatawan dari yang hanya sekedar penasaran akan keberadaan Kampung Inggris hingga mereka yang ingin mendaftarkan diri sebagai peserta kursus di tempat ini.

Umumnya para pengunjung yang penasaran ingin membuktikan apakah kisah yang beredar selama ini akan mitos keistimewaan Kampung Inggris masih berlaku. Keistimewaan yang dimaksud adalah peraturan yang mengharuskan para pengunjung atau peserta didik yang berada dalam kawasan tersebut untuk wajib menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan mereka sehari-hari meskipun mereka tidak sedang mengikuti program kursus yang sedang berjalan.

Saya termasuk dari salah satu orang yang penasaran akan ‘mitos’ tersebut menyempatkan diri untuk mengunjungi salahsatu lembaga kursus yang berada pada masing-masing jalan utama Kampung Inggris yaitu di Jalan Anyelir dan Brawijaya. Berjarak sekitar 60 kilometer dari tempat tinggal saya di Blitar, dibutuhkan waktu sekitar satu setengah jam dengan sepeda motor melintasi jalur akses utama Gunung Kelud untuk mencapai kawasan Kampung Inggris di Pare dengan melewati Monumen Simpang Lima Gumul yang juga merupakan icon pariwisata Kabupaten Kediri. Monumen yang sekilas mirip dengan monument Champ de Ellyses di Paris, Perancis tersebut hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari Kecamatan Pare dan menjadi kawasan pusat sentra bisnis di Kabupaten Kediri.

Monumen Simpang Lima Gumul

Monumen Simpang Lima Gumul

Pasca melewati Monumen Simpang Lima Gumul, dibutuhkan sekitar 15 menit untuk mencapai Tugu Garuda yang merupakan pertanda bahwa anda telah memasuki kawasan Kampung Inggris. Setelah sekedar bertanya kepada warga sekitar barulah saya mengetahui keberadaan sentra Kampung Inggris yang terletak di kawasan Jalan Anyelir dan Jalan Brawijaya.

Kawasan Jalan Anyelir adalah kawasan pertama yang saya jelajahi di Kampung Inggris. Di kawasan tersebut saya menyempatkan diri untuk singgah di beberapa lembaga kursus yang kebetulan tengah memasuki jam istirahat. Saya ingin sedikit menggali informasi tentang gambaran umum Kampung Inggris pada umumnya dan juga program yang ditawarkan oleh lembaga tersebut. Dengan bahasa Inggris alakadarnya, saya mencoba melakukan sedikit wawancara dengan beberapa pengelola kursus dan warga sekitar akan tatacara pendaftaran dan juga kondisi lingkungan yang berada di sekitar.

Ternyata setelah perbincangan tersebut saya menemukan beberapa fakta menarik tentang Kampung Inggris, setidaknya menurut versi saya :

Pertama, sebagian besar peserta yang mengikuti program kursus di Kampung Inggris ternyata berasal dari luar kota Kediri seperti Jakarta, Bandung, Surabaya bahkan hingga luar pulau seperti Sulawesi, Kalimantan hingga Papua. Karena itulah kawasan ini pada umumnya mewajibkan para peserta untuk mengikuti program camp terpadu atau live in selama 2 minggu atau 1 bulan secara intensif dengan program yang dirancang sebagai ‘Full Day English’ curriculum, alias setiap harinya mereka akan mengikuti program kursus dengan fokus pembelajaran yang berbeda setiap sesinya. Misalnya semenjak bangun pagi para peserta telah diwajibkan untuk menulis diary alias catatan harian berbahasa Inggris, kemudian pada sesi berikutnya mereka akan mempelajari Grammar (tata bahasa), selanjutnya ada juga sesi Speaking, Pronounciation, dan sebagainya.

Kedua. hampir seluruh lembaga kursus yang berada di Kampung Inggris mewajibkan peraturan ‘No English, No Service’ di lingkungan mereka. Yang berarti, anda diharuskan untuk selalu menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari di lingkungan anda berada, walau dalam hal kecil sekalipun misalnya berbicara dengan rekan sesama peserta kursus dalam bahasa informal. Hal ini terlihat bahkan ketika saya tengah beristirahat di tengah jalan di kawasan jalan Anyelir. Terdengar beberapa peserta yang tengah bersepeda santai tengah menggunakan bahasa Inggris sederhana dalam percakapan mereka, yang walaupun terdengar agak kaku namun perlu diapresiasi atas keberanian mereka untuk mengatasi keraguan dalam berbahasa Inggris yang selalu menjadi faktor utama penghalang kemampuan bahasa Inggris setiap orang.

Ketiga, ternyata dalam prakteknya, peraturan ‘No English No Service’ tersebut tidak mutlak berlaku dalam penerapan sehari-hari jika diberlakukan pada warga sekitar, tidak seperti pemberitaan yang sering saya dengar sebelumnya. Ketika saya tengah singgah ke sebuah kios aksesoris handphone dan menanyakan sebuah produk dengan menggunakan bahasa Inggris, ternyata si empunya warung malah menjawabnya dengan bahasa Jawa, “Kulo mboten ngertos Inggris, mbak,” (Jawa: Saya tidak mengerti bahasa, mbak). Akhirnya sambil tersenyum meringis saya mengulangi pesanan saya dengan bahasa Jawa halus seperti di daerah asal saya. Kejadian lucu ini rasanya tidaklah mengherankan mengingat sepanjang jalan saya menemui bahwa kecuali peserta didik yang tengah mengikuti program intensif, nampaknya warga di sekitar Kampung Inggris ternyata tidak sepenuhnya turut berpartisipasi dalam program Full Day English yang gencar dipromosikan oleh kawasan ini. Hal ini sebenarnya tidaklah mengejutkan karena kini tidak semua warga berpartisipasi aktif dalam program tersebut. Sebagian warga memang masih antusias untuk mendukung program Full Day English namun sebagian warga terutama pendatang dari luar Pare memilih untuk menjalankan kehidupan mereka seperti biasa. Kenyataan ini menyebabkan kekhasan kawasan Kampung Inggris sedikit terasa berkurang karena program Full Day English Camp yang selama ini menjadi daya tarik utama kawasan ini hanya berlaku efektif dalam masing-masing lokasi lembaga kursus yang diikuti saja, tidak kepada warga sekitar seperti pedagang warung, counter HP atau tempat bisnis lainnya.

Namun terlepas dari ketiga fakta menarik tersebut, Kampung Inggris tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung ke kawasan terpadu ini, terutama bagi mereka yang ingin mempelajari bahasa Inggris secara lebih efektif, inovatif dan tentunya dengan biaya yang sangat terjangkau. Sebagai gambaran, untuk mengikuti satu program intensif selama 2 minggu dengan 3-4 paket materi sekaligus dalam satu kali pertemuan, rata-rata anda harus menyediakan sekitar Rp. 550 ribu yang sudah termasuk biaya kursus, biaya penginapan serta makan 3x sekali bagi mereka yang mengambil paket intensif beserta English Camp. Sedangkan bagi yang hanya ingin mengikuti paket Reguler saja tanpa mengikuti English Camp alias menginap di kawasan Kampung Inggris, anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 50-100 ribu per program yang berlangsung dalam periode minimal 2 minggu dengan 10 kali pertemuan. Sangat terjangkau bukan?

Jadi, jika anda menginginkan untuk dapat mempelajari bahasa Inggris secara lebih efektif di lingkungan yang nyaman, asri, dan menghadirkan atmosfir yang berbeda dari kebanyakan lembaga kursus lainnya, sekaligus menghabiskan waktu liburan anda dengan wisata edukatif yang bermanfaat, Kampung Inggris adalah tujuan terbaik bagi Anda yang sudah jenuh dengan kehidupan kota besar yang penuh kepenatan dan kejenuhan sehari-hari. Anda akan dimanjakan dengan pengalaman tinggal di desa yang penuh dengan rasa kekeluargaan serta minim polusi karena sebagian besar peserta didik di area terpadu ini hanya menggunakan sepeda yang disewakan oleh penduduk sekitar sebagai sarana transportasi utama selama dalam kawasan Kampung Inggris.

Tertarik untuk segera mendaftar? Masa pendaftaran peserta kursus dan pembukaan kursus di Kampung Inggris pada umumnya hanya dibuka 2 kali sebulan yaitu setiap tanggal 10 dan tanggal 25 setiap bulannya. So, you’d better sign up as soon as possible to get the best place and best course in this place, friends.

(foto dan artikel : theresia E)