Budaya Empan Papan dan manfaat sosial media

Mari Mencoba dari hal kecil

Mari Mencoba dari hal kecil

TERASWARTA – Opini | Jika bukan kita lalu siapa lagi akan bicara tentang citra Nusantara yang sarat dengan keindahan dan potensi? Ataukah hanya akan membicarakan tentang politik dengan “tetek bengek” kasus demi kasus, atau akan berbicara tentang “agamamu apa dan melakukan apa” yang terkadang berujung pada siuasi yang saling menyudutkan. Realitas yang bisa kita temukan bahkan di media sosial semacam facebook atau twitter dan banyak lagi.

Penting memang untuk terkadang menjadi bahasan mengingat telah menjadi sebuah kesepakatan kiranya bagaimana rakyat yang notabene adalah kita semua ini turut berperan “mengawal” jalannya roda pemerintahan dan ranah-ranahnya, terlebih bagi anda yang tahu.

Masalahnya? Seberapa besar sih pemahaman kita sebenarnya akan dunia politik, akan dunia hukum, akan dunia agamis. Sudah sangat pahamkah kita dengan seluk beluknya, atau justru akan menjebak kita pada pemahaman sendiri yang akhirnya memunculkan “ke-egoan” yang asal jawab atau asal benar saja. Fenomena yang saya pribadi rasa sering muncul akhir-akhir ini.

Belajar dari kata “Empan Papan’ yang bila diartikan memiliki maksud “menempatkan segala sesuatu secara tepat/sesuai tempatnya. Maka melalui opini saya hanya memiliki impian untuk bagaimana masing-masing dari kita belajar menahan diri terhadap banyak hal yang terkadang sangat reaktif dalam menanggapi sesuatu.

Coba bayangkan andai kita “gonto-gontokan” tentang tokoh pemerintah misalnya di media sosial semacam facebook. Ada puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan pasang mata yang membacanya meski telah ada saring privasi mau terbuka atau tertutup. Berapa orang yang akan membaca hal negatif itu? Jawabannya “tak terkira”.

Berdasar pada hal di atas sekali lagi belajar dari kata “Empan Papan”, alangkah baiknya jika dari semisal sepuluh status dalam sehari, satu saja kita mengangkat hal positif tentang daerah di sekitar kita. Efeknya adalah akan ada jumlah pasang mata “tak terkira” tadi yang  akan membaca, melihat, membicarakan dan bahkan mungkin berkeinginan untuk mengunjungi, membagi, atau banyak hal lagi yang memiliki nilai positif. Hal yang sebanarnya memang juga telah ada tinggal memperbanyak porsinya.

Hal sederhana memang, namun bukan hal mudah untuk kita melakukannya. Sebuah catatan pribadi saya dari sebuah keinginan sederhana bagaimana berperan mengangkat hal positif melalui media sosial.  Gunakan juga Budaya “Empan Papan” juga sesuai kemampuan kita agar tidak menjadi salah kaprah dalam melakukan sesuatu. Yang masih sekolah ya ada baiknya berbicara tentang seputaran kegiatan sekolah porsinya lebih diperbanyak, yang bekerja di bidang Foto berbicara melalui fotonya tentang yang indah, dan seterusnya. Sesekali perlu berbicara yang lebih atau sesuai “kabar” yang ada sebagai pembelajaran namun mari kita belajar untuk mengungkap hal positif yang tertinggalkan namun mari kita bahas dalam tempat dan waktu yang tepat. Semua ada porsinya masing-masing. Salam.