Sang Pejuang Hidup

Kerut wajah lelahmu jadi penghias abadi wajahmu
Bercampur Keringat yang terkadang dimaki
Lirik mata curiga pun tak jarang ikutimu
Sebagai teman yang hadir dalam lakumu
Potong demi potong kertas
Buah demi buah botol kosong
Menjadi seolah mesin senyum bagi bibir  keringmu
Ijinkan ku menatapmu dalam kagumku
Lelaki tua Pemungut sampah dihadapanku
Kau Sang Pejuang hidup
Meninggalkan rasa malu dan lelahmu
dan kataku….
Engkau lebih berharga dari mereka yang duduk di “sana”
Di jajaran bangku-bangku serta meja milik negara
Yang setiap goresan pena ditangannya harus berbuah harga
Hanya satu dua yang sungguh jujur dari mereka