Ilustrasi Gerak Varatif Pasar Domestik
TERASWARTA – Ekonomi | Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini cenderung menguat sementara pergerakan laju rupiah melanjutkan pelemahan. Data positif yang dirilis dari BPS kemarin memang positif namun pasar masih wait and see atas outlook perekonomian negara-negara berkembang.
Nilai tukar rupiah tetap melanjutkan pelemahan meskipun terjadi pelemahan dollar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia. Pada hari kemarin kurs rupiah terhadap dollar AS ditutup melemah 65 poin ke level Rp. 11.566 – Rp. 11.575.
Outlook indeks manufaktur di negara-negara berkembang menjadi pemicu sentimen negatif yang membuat para pelaku pasar cenderung berhati-hati dan pesimis. Hal ini membuat kinerja nilai tukar mata uang negara-negara berkembang berada dalam tekanan yang kurang bersahabat dengan pasar.
Data internal dalam negeri, para pelaku pasar masih mengkhawatirkan perlambatan pertumbuhan  ekonomi, prospek kestabilan defisit neraca perdagangan. Pertumbuhan ekonomi yang melambat memberikan sentimen negatif terhadap beberapa mata uang negara-negara berkembang dimana kenaikan BI rate menjadi 7,25 persen memberi dampak berkurangnya aktivitas perekonomian. Proyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) di bawah 6 persen untuk dua tahun berturut-turut.
Dari variatifnya data di atas memberi dampak signifikan terhadap nilai tukar rupiah, meskipun dollar AS melemah terhadap beberapa mata uang utama seperti Euro dan lainnya. Nilai tukar dollar AS terhadap Euro melemah, sebelumnya di level 1,3523 dollar AS menjadi 1,3532 dollar AS.
Sentimen negatif dan positif ini menghiasi perdagangan valas hari ini, pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan. Analisa teknikal dan fundamental menjadi dasar setiap pengambilan keputusan.