Mengenal Filsuf Friedrich Nietzsche

Friedrich Nietzsche - (foto : en.wikipedia.org)

Friedrich Nietzsche – (foto : en.wikipedia.org)

TERASWARTA – Opini | Friedrich Nietzsche adalah seorang filsuf  Jerman. Nietzsche dilahirkan pada tanggal 15 Oktober 1844 di Roecken, di dekat kawasan Leipzig, Saxony Jerman. Awal nama Friedrich diberikan  karena hari kelahirnnya sama persis dengan Raja Prusia Friedrich Wilhelm. Nietzsche mempunyai seorang kakek sebagai kepala pendeta di Gereja Lutheran dan ayahnya Karl Ludwig seorang pastor di Saxony. Ibunya Franziska Oehler adalah seorang putri pastor aliran Lutheran.

Nietzsche terkenal dengan gagasan pemikirannya mengenai “Tuhan telah mati” dan keyakinannya bahwa kita harus menciptakan “Adimanusia” (Roy Jackson 2001 : 2). Nietzsche termasuk filsuf yang karya-karyanya banyak dibaca pada masa modern. Fisuf Jerman pertama  yang dengan tegas menentang hilangnya keyakinan beragama yang tengah merebak di Eropa Barat. Keluarga Nietzsche tergolong orang Kristen yang taat beribadah. Sikap tersebut ditunjukan  oleh ibunya Franziska Oehler dengan memahami bahwa orang yang mempelajari Injil tidak mungkin meragukan ajaran di dalamnya.

Ketika Nietzsche berusia empat tahun ayahnya sakit keras dan meninggal pada 1849. Keluarganya lebih terpukul lagi karena setahun kemudian adik Nietzsche yang bernama Joseph meninggal. Nietzsche merupakan satu-satunya anak lelaki, anggota keluarga yang lain adalah ibu, kakak perempuan, kedua bibi dan neneknya. Pada saat menjalani hidupnya sebagai seorang pelajar dan mahasiswa Nietszche mulai berkenalan karya-karya pujangga Jerman, Johan Wolfgang Goethe (1749-1832), musikus Richard Wagner (1813-1883), dan filsuf Arthur Schopenhauer (1788-1860). Mulai dari perkenalan inilah ia mengalami perubahan dalam pemikirannya.

Karya penulisannya yang pertama Ohne Heimat (Tanpa Kampung Halaman) yang mengungkapkan kebebasan gejolak hatinya untuk minta dipahami (ST Sunardi 1996 : 5). Pada tahun 1864 Nietzsche melanjutkan sekolahnya di Universitas Bonn untuk mempelajari filologi dan teologi. Tetapi di tahun 1865 Nietzsche memutuskan untuk tidak belajar teologi dan mulai meragukan semua agama. Pada tahun yang sama Nietzsche pindah dari Pforta menuju ke Leipzig untuk belajar filologi (studi tentang bahasa dan kesusastraan). Ia murid yang berbakat dan diakui oleh dosennya Friedrich Ritschl. Penilaian itu berdasar karya tulisnya yang pertama di bidang filologi yaitu De Theognide Megarensis (Silsilah Para Dewa Megara). Karya tulisan yang berjudul Diogenes Laertius pernah memenangkan hadiah di universitasnya (ST Sunardi 1996 : 6). Pada tahun 1867-1868 terjadi perang antara Jerman melawan Perancis, ketika itu Nietzsche mengikuti wajib militer. Meskipun tidak menyukai dengan tugas itu tetapi ia harus  melaksanakannya.

Nietzsche mendapat panggilan untuk menjadi dosen dari Universitas Basel, Swiss tepatnya tahun 1869. Panggilan itu atas rekomendasi Friedrich Ritschl dosennya yang mengajar di Leipzig. Bahkan ia mendapat gelar doktor dari Leipzig tanpa melalui ujian apapun. Ia mengajar filologi Yunani selama di Basel. Masa karirnya di Basel juga sering disertai kondisi kesehatan yang buruk. Ia sering jatuh sakit dan kesehatannya semakin memburuk. Pada tahun 1879 ia menderita sakit selama 118 hari dan tetap memaksakan diri untuk  tidak bersedia mengundurkan diri sebagai dosen.

Pada tahu 1889 Nietzsche mengalami sakit jiwa, berbagai macam usaha penyembuhan dilakukan dari klinik satu ke klinik yang lain. Tetapi usaha penyembuhan itu sia-sia saja. Sejak tahun 1890 ibunya memindahkan di Naumburg untuk dirawat sendiri dirumah, selama merawat ibunya ditemani oleh Elizabeth saudara perempuan Nietzsche. Pada tanggal 20 April 1897 ibunya meninggal kemudian Elizabeth memindahkan Nietzsche di Weimar. Akhirnya 25 Agustus 1900 Nietzsche meninggal setelah mengalami kelumpuhan mental yang penyebabnya terinfeksi sifilis dan sebelumnya pernah terkena stroke.

Karya-karya Nietszche antara lain The Birth of Tragedy (1871), Human, All Too Human (1878), Assorted Opinions and Maxims (1879), The Wanderer and his Shadow (1880), Dawn (1881), The Gay Science (1882),  Thus Spoke Zarathustra (1885), Beyond Good and Evil (1886), Der Fall Wagner/Ein Musikan-ten-Problem (1888). Sementara karya yang lain seperti Die Gotzen-Dammerung (diterbitkan 1889), Der Anthichrist (diterbitkan 1895), Ecce Homo (diterbitkan 1908). Seluruh karya Nietzsche tidak ada yang disusun secara sistematis, hampir semuannya berbentuk aforisme (ST Sunardi 1996 : 12). Inilah yang membuat Nietzsche berbeda dengan filsuf-filsuf lainnya, ciri tulisan aforistis adalah cara tepat mewakili gagasannya. Gaya bahasanya yang begitu lugas sehingga aforisme Nietzsche hampir menyerupai bahasa kitab suci.

Pemikiran Nietzsche

Gagasan Nietzsche ditunjukkan dengan beberapa karya tulisannya yang berbentuk aforisme. Aforisme adalah gaya tulisan yang berbentuk dalil-dalil ringkas dan padat serta panjang kalimatnya bisa bervariasi (Roy Jackson 2001 : 129). Baginya ia tidak percaya dan menolak setiap bentuk sistem. Ia selalu bereksperimen dengan sesuatu yang baru dan tidak mau terikat pada pendapat-pendapat yang tersudah terjadi sebelumnya. Nietzsche mempunyai paradigma tentang ketidak percayaannya terhadap hidup, sehingga ia penganut nihilisme murni. Menurut Yasraf Amir Piliang pengertian nihilisme adalah sikap pandangan yang menentang nilai-nilai kebenaran moral, dan melihatnya dalam posisi yang berada pada titik nol, artinya pada posisi yang tidak ada polarisasi nilai baik/buruk, dan sebagainya  (Yasraf Amir Piliang 2003 : 18).

Hal ini tampak ketika ia mulai menolak untuk belajar teologi sebagai jalan untuk meneruskan menjadi pendeta. Padahal latar belakang keluarga Nietzsche tergolong religius, karena kakek dan ayanhya sangat dekat sekali bersinggungan secara sosial dan emosional dengan lingkungan gereja. Setidaknya prioritas pendidikan itu merupakan pilihan orang tua Nietzsche yang juga penganut setia gereja Lutheran. Secara sosial memang Nietzsche tergolong radikal dalam mempertanyakan kebenaran moral dan nilai baik sebagai pegangan dalam kehidupan. Ia membenci hal-hal yang berbau ketidakjujuran dan kemunafikan sehingga berani menelanjangi semuanya dengan kenyataan “kehendak untuk berkuasa”. Banyak sedikit ia terpengerauh oleh ilham dari filsuf Schopenhauer meskipun seringkali ia pun menentangnya dengan kritik. Nietzsche juga menolak proses kehidupan yang berjalan sesuai siklus biologis saja. Seperti diungkapkan bahwa keinginan apa sebenarnya yang menjadi motif manusia untuk hanya sekedar memenuhi kebutuhan sebagaimana mahkluk hidup lainnya yaitu reproduksi dan produksi untuk reproduksi (Roy Jackson 2001 : 57). Pemikiran inilah yang benar diberontak Nietzsche, seolah hidup ini hanya berjalan mekanis menurut aturan biologis. Manusia tetap mempunyai keinginan yang paling mendasar yaitu “keinginan untuk kekuasaan” menurutnya. Nietzsche beranggapan keinginan itu disadari atau tidak tetapi keinginan tersebut muncul karena insting atau alam bawah sadar manusia. Wujud dari keinginan manusia itu bisa saja berupa dorongan untuk memiliki, mengendalikan dan menguasai segalanya. Segala apa yang bergerak dalam dunia ini seolah ditentukan dan dikendalikan oleh kekuasaan manusia,  maka dari hal tersbut di atas Nietzsche secara lugas menyatakan bahwa Tuhan telah mati. Gagasan “Tuhan telah mati” (Gott ist tot) yang populer di seluruh jagat Eropa itu secara dangkal ditafsirkan sebagai indikasi Atheisme adalah paham yang menyangkal keberadaan Tuhan berdasar bukti-bukti rasional (Roy Jackson, 2001). [Elyandra Widharta]

 Bacaan Pendukung

Nietzsche, Zarathustra, Terj H.B. Jassin, Yogyakarta, Yayasan Bentang Budaya, 2001.

Roy Jackson, Serial Tokoh Filsafat – Friedrich Nietzsche, Yogyakarta, Yayasan  Bentang Budaya,  2001.

ST Sunardi, Nietzsche, Yogyakarta, LKIS, 1996.

Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Tafsir Kultural Studies Atas Matinya Makna, Yogyakarta, Jalasutra, 2003.