Memproduksi Ketoprak Kampung Sebagai Hiburan Mandiri

Ketoprak Suminten Edan

Ketoprak “Suminten Edan” RW 10 Sagan Terban Yogyakarta

Ketoprak merupakan kesenian tradisional yang lahir dari semangat pergaualan tradisi di Jawa Tengah.  Awal munculnya ketoprak ditandai dengan iringan musik gejog lesung yang biasa digunakan para petani untuk menumbuk padi. Dahulu sering dipertunjukan di halaman rumah saat malam hari pada bulan purnama tiba. Inilah yang membuat ketoprak mempunyai dialektika sekaligus nilai seni karena lahir dari pergaulan sosial masyarakat setempat.

Cerita yang dibawakan ketoprak mengangkat mengenai cerita rakyat seperti babad, legenda dan mitos yang tumbuh di sekitar masyarakat. Terdiri dari pemain laki-laki dan perempuan dan menggunakan tarian tradisional sekaligus tembang Jawa. Ketoprak mengalamai perkembangan dengan menggunakan musik gamelan lengkap sekitar tahun 1920an.

Pada perkembagan berikutnya masyarakat yang tinggal di kota urban mulai menengok kembali kesenian ini. Ketoprak dipandang mampu menjadi seni pergaulan yang mampu merekatkan ikatan persauadaran ditengah hiruk pikuk aktivitas dan kesibukkan beberapa masyarakat urban pinggiran. Kerinduan dan kreativitas yang lahir sebagai insan yang mengakar dihati sanubari sebagai manusia yang lahir dengan nilai tradisi Jawa. Peristiwa ini terjadi pada masyarakat yang tinggal di Kampung Sagan RW 10 Terban Yogyakarta.

Mereka membuat hiburan secara mandiri yaitu ketoprak dengan lakon “Suminten Edan”. Sebuah cerita rakyat yang diambil dari kisah kehidupan para Warok dari daerah Trenggalek Jawa Timur. Tentang gagalnya pernikahan Suminten dengan Raden Subroto yang pergi meninggalkan Kadipaten Trenggalek, lalu kemudian membuat Suminten gila. Namun kepergian Raden Subroto bukan pergi menghilang, karena Raden Subroto tinggal di tempat Warok Suro Menggolo setelah menolong anaknya yang bernama Cempluk Warsiyah karena dikejar-kejar oleh Gentho yang akan menimangnya sebagai istri secara paksa.

Dipentaskan pada peringatan Panggung Kesenian Sumpah Pemuda pada 26/10/13 yang lalu di halaman rumah salah satu warga. Para pemain ketoprak terdiri dari para pemuda, bapak-bapak dan ibu-ibu kampung yang secara pengalaman masih awam. Ketoprak dibuka dengan tarian tradisi topeng edan sebagai bagian dari cerita ketoprak. Tari topeg edan dibawakan oleh pemuda kampung. Bermodalkan aktualisasi dan keberanian inilah warga masyarakat ingin mengelola kreatvitas bersama. Menuangkan cita rasa dalam kesenian ketoprak.

Ketoprak mampu diinisisasi untuk diwujudkan sebagai sarana hibura mandiri dan tontonan kerakyatan. Kemauan belajar terhadap seni tradisi inilah yang patut diapresiasi. Bahwa ketoprak dipandang mampu diproduksi secara mandiri sebagai media hiburan di kampung-kampung kota tanpa harus tergantung dengan kesenian mainstream pada umumnya. [Elyandra Widharta]